Alhamdulillah,
puasa telah hampir selesai. Lebaran telah berada di ambang
pintu. Wajar pada hari lebaran kita bergembira, karena
kita harapkan bahwa kita telah kembali kpd fitrah. Kesucian.
Dulu,
sewaktu kita pertama lahir kita tdk membawa dosa. sewaktu kita pertama lahir
kita tdk menaruh dendam. sewaktu kita pertama lahir, segalanya kita lihat indah
dan baik. Itulah makna fitrah.
Bpk2 – ibu2---
Selama puasa,
kita menenun pakaian takwa, tujuan puasa, sebgaimana kita ketahui
bersama, menurut al-quran, la’allakum tattaquun, Ketika seorang beridul fitri,
dia mengenakan pakaian takwa, pakaian yang kita tenun slm bulan
ramadhan. Pakaian yg mestinya kita pakai sepanjang saat. Khususnya setelah
kita menempa diri selama sebulan penuh dgn berpuasa. Dalam konteks ini, kita
mengingat pesan Allah. Walaa takuunu ka
Dan
janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah
dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, 92)
Maksudnya, janganlah kamu menjadi seperti
seorang perempuan mengeruai kembali tenunanya seheleai demi sehelai, setelah
ditenunkan
dengan idul fitri kita melepaskan kendali ,
kita melakukan hal2 yg tidak dibenarkan oleh agama.
Hadirin
dan hadirat, ‘Aidin dan ‘Aidat, Faizin dan Faizat,
Baru
saja kita rebahkan diri kita, bersimpuh di depan pintu kebesaran Allah yang
Mahakasih Mahasayang. Baru saja kita mengakhiri salat kita dengan menyebarkan
salam sejahtera kepada semua makhluk di sekitar kita. Sejak tadi malam sampai
pagi ini, kita memenuhi langit dengan suara takbir kita. Allahu Akbar Allahu
Akbar Walillahil Hamd!
Jauh dari kedalaman hati kita yang paling bening, terbersit rasa syukur yang tidak terhingga. Rasa syukur yang mengisi setiap pembuluh darah kita, mengalirkan kesejukan ke dalam pori-pori kulit kita, urat-urat syaraf kita, jaringan-jaringan daging kita, butir-butir darah kita, dan sampai ke dalam tulang sumsum kita. Seperti tetes-tetes embun di pagi hari, air mata kita perlahan-lahan menggenangi pipi kita. Air mata terima kasih kita kepada Dia Yang Mahasayang. Air mata kepuasan karena kita bisa berhari-raya lagi. Air mata kebahagiaan karena kita mendapat peluang untuk menyelesaikan puasa dan salat malam kita di bulan Ramadhan.
Jauh dari kedalaman hati kita yang paling bening, terbersit rasa syukur yang tidak terhingga. Rasa syukur yang mengisi setiap pembuluh darah kita, mengalirkan kesejukan ke dalam pori-pori kulit kita, urat-urat syaraf kita, jaringan-jaringan daging kita, butir-butir darah kita, dan sampai ke dalam tulang sumsum kita. Seperti tetes-tetes embun di pagi hari, air mata kita perlahan-lahan menggenangi pipi kita. Air mata terima kasih kita kepada Dia Yang Mahasayang. Air mata kepuasan karena kita bisa berhari-raya lagi. Air mata kebahagiaan karena kita mendapat peluang untuk menyelesaikan puasa dan salat malam kita di bulan Ramadhan.
Dan inilah
kita sekarang: Para aidin dan aidat, faizin dan faizat!
Orang-orang yang berhari raya! Orang-orang yang merayakan kemenangan!
Kenanglah kesibukan kita di bulan Ramadhan:
Menahan
lapar dan haus, mengendalikan hawa nafsu, membaca Al-Quran, menghadiri tadarusan,
melakukan salat malam atau berbagi makanan kepada fuqara dan masakin.
Kenanglah
malam-malam qadar ketika kita
melantunkan doa-doa kita dalam kesepian atau dalam kerumunan, di rumah sendiri
atau di rumah Tuhan.
Kenanglah sabda Nabi saw di tengah-tengah
sahabatnya, lebih dari seribu empat ratus tahun yang lalu. “Pada malam Qadar,
Allah memerintahkan malaikat Jibril untuk turun ke dunia bersama rombongan para
malaikat…Ketika fajar terbit, Jibril berseru: Wahai para malaikat, kembalilah,
kembalilah. Para malaikat pun menyahut: Ya Jibril, apa yang telah dilakukan
Allah dalam memenuhi hajat-hajat kaum mukmin umat Muhammad? Jibril
berkata: Allah swt telah memenuhi keperluan mereka – membahagiakan dan mengampuni
mereka semua kecuali empat orang! Para sahabat bertanya: Ya Rasulallah, man
hum? Siapakah mereka yang tidak diterima ibadatnya, yang ditolak doanya, yang
tidak diampuni dosa-dosanya?
Dengarkan
Nabi saw bersabda: Semua orang dipenuhi keinginannya kecuali empat orang:
رجل مدمن خمر،
وعاق لوالديه، وقاطع رحم ومشاحن
orang yang
terus menerus minum khamar, orang yang durhaka kepada orangtuanya, orang yang
memutuskan silaturahmi, dan orang yang sedang bermusuhan (Al-Baihaqi, Syu’b al-Iman 3:336 hadis 3695; Rawdhat al-Wa’izhin 380, dari
Imam Ali a.s).
Hadirin
dan hadirat, Faizin dan Faizat:
Kita tahu,
minum khamar adalah dosa besar. Alhamdulillah, kita semua berhasil
menghindarinya. Yang tidak kita sadari adalah kenyataan bahwa seperti minum
khamar, durhaka pada orang tua, memutuskan silaturahmi, dan meneruskan
permusuhan adalah dosa-dosa besar. Karena dosa-dosa besar itu, pintu-pintu langit ditutupkan,
ibadah-ibadah dicampakkan, doa-doa dilemparkan, dan permohonan
ampunan ditolakkan.
Marilah kita
kenang ibadah-ibadah kita di bulan Ramadhan. Ketika kita menadahkan tangan kita
di atas sajadah kita, kenanglah apakah sebelumnya kita membuat orang tua
kita murka atau sakit hati? Apakah kita menyakiti pasangan kita, saudara
kita, sahabat kita, tetangga kita, atau pegawai kita?
Apakah kita tidak mau meminta maaf dan tidak mau memaafkan? Apakah kita menyimpan
dendam dan memelihara permusuhan? Dalam taman
kehidupan, apakah kita menjadikan diri kita seperti rumpun berduri yang tumbuh
di tengah jalan. Semua orang yang lewat pasti terluka karena duri-duri kita
yang tajam. Bila kita menjawab ya, kita keluar dari bulan Ramadhan
dengan tangan hampa. Tanpa ijabah doa. Tanpa ampunan Tuhan. Tanpa anugrah
Ramadhan.
Tanyalah
dirimu! Ketika lidah kita membacakan ayat-ayat suci, ingatlah apakah
lidah yang sama telah me maki orang lain hanya karena fahamnya
berbeda dengan kita, atau karena pendapatnya tidak kita setujui, atau karena kelakuannya
tidak seperti yang kita inginkan? Apakah lidah kita telah menjadi ular
yang menyemburkan bisa kepada semua orang. Bisa fitnah yang
menjatuhkan kehormatan orang. Bisa namimah yang mengadu domba
orang-orang yang saling mencinta. Bisa membongkar aib yang mempermalukan orang.
Hitung berapa banyak hamba Allah yang merintih pilu, menderita karena bisa-bisa
menyengat yang keluar dari mulut kita.
Sambil
memegang tirai Ka’bah, Nabi saw mengagumi rumah Tuhan: Betapa agungnya
kamu. Betapa besarnya kamu. Tapi, demi Allah, yang jiwaku ada di tanganNya,
jika ada orang yang meruntuhkan kamu, wahai Ka’bah, bata demi bata, kemudian
menghancurkannya dan membakarnya, dosanya jauh lebih rendah daripada orang yang meruntuhkan
kehormatan kaum mukmin.” Sunan Ibn Majah
Jika lidah
kamu masih juga menghancurkan kehormatan orang, menyebarkan aib, fitnah, dan
makian, kamu keluar dari bulan Ramadhan dengan tangan hampa. Tanpa ijabah doa.
Tanpa ampunan Tuhan. Tanpa anugrah Ramadhan.
Marilah kita
bermuhasabah! Hari
ini adalah hari yang paling layak untuk bermuhasabah! Ketika kita rukuk dan
sujud di hadapan Tuhan, ketika kita merebahkan kepala kita di atas sajadah,
apakah kepala kita itu di luar tempat salat kita dongakkan untuk menunjukkan
kebesaran kita dan merendahkan orang lain? Nabi saw bersabda,
لن يدخل الجنة عبد في قلبه مثقال حبة من خردل من كبر
“Tidak akan
masuk surga orang yang dalam hatinya ada perasaan sombong walaupun hanya
sebesar debu saja!” (Bihar al-Anwar dan Mizan al-Hikmah 8:304)
Orang-orang
yang sombong keluar dari bulan Ramadhan dengan tangan hampa. Tanpa ijabah doa.
Tanpa ampunan Tuhan. Tanpa anugrah Ramadhan.
Orang-orang
yang menyakiti sesama makhluk Tuhan, orang yang menyebarkan kebencian dengan
fitnah, hasutan dan makian, orang-orang yang meruntuhkan kehormatan orang lain,
orang yang sombong dan merasa diri paling benar dan paling soleh, adalah
orang-orang yang memutus-mutuskan silaturahmi. Mereka dilaknat Allah di dunia
dan akhirat.
Allah swt
berfirman (Al-Quran, Surat Muhammad saw 22-23):
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا
فِي الأرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ
وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ
“Bukankah
apabila kalian berpaling dari ajaran Al-Quran, kalian akan berbuat kerusakan di
bumi dan memutus-mutuskan silaturahmi. Mereka itulah orang-orang yang Allah
laknat mereka. Allah butakan dan tulikan mereka”
Marilah kita
memohon perlindungan kepada Allah yang Mahakasih dari perbuatan yang memutuskan
silaturahmi.
Pada hari ini,
mari kita bukakan gerbang-gerbang langit, mari kita luaskan pintu-pintu ijabah,
dengan menyebarkan kasih sayang ke tengah-tengah manusia.
Mintakan
maaf kepada semua orang yang pernah kita lukai hatinya: orangtua, pasangan hidup,
karib-kerabat, tetangga dan sahabat-sahabat kita.
Mintakan
maaf dengan tulus, karena maaf mereka adalah kunci untuk mendapatkan ampunan
Tuhan; karena maaf mereka adalah wasilah untuk mengembalikan kepada kita
pahala amal-amal saleh kita, keberkahan dan keselamatan, kemuliaan dan
kebahagiaan.
Bertekadlah,
mulai hari ini, demi kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat, kita hanya akan
menyebarkan senyuman Sang Nabi saw, memaafkan orang yang berbuat salah,
mengenyangkan orang yang lapar, menyembuhkan orang yang sakit, menghibur orang
yang menderita, membantu orang yang kekurangan. Sekali lagi, marilah kita buka
pintu-pintu ijabah, tirai-tirai kegaiban, dengan doa yang kita peroleh dari
manusia-manusia suci:
Allhumma ashlih dzaata baynina wa allif bayna
quluubinaa wajalnaa ibaadallahi ikhwaana
Ya allah perbauakilah hubungan antar kami. Harmoniskanlah
hati kami dan jadikanlah kami hamba2mu yg bersaudara.
Alhhamummaj’alna minal a’idin alfaizin wal
maqbuulin.
Ya allah jadikanlah kami orang2 yg kembali
pada kesucian fitrahmu. Orang2 yg memperoleh pengampuan dan surgamu, serta
orang2 yg diterima amal2 kebaikannya
Wa aid alaina ramahdna a’waam ba’da a’waam
fiima tuhibbu wa tardha
Dan kembalikanlah kpd kami ramahdan tahun
demi tahun dlm suka dan ridha wahai tuhan yg maha perkasa
Imam
nawawi berkata begini, “celakalah kaum ramadhaniyyun.2 x. apa itu
ramadhiyyun,..adl orang2 yg klo menginat Allahnya di bulan ramadhan sj. Sblm
ramadhan tidak ingat kpd Allah, usai ramadhan tdk ingat lg kpd Allah. Itu ada
r…orangyg ibadahnya hanya di bulan suci..ramadhan.
Menyayangkan masjid yang begitu besar, tapi minat jamaahnya sangat kecil.
Masjid yang yang sangat megah, tapi minat jamaahnya sangat meprihatinkan.
Masjid yang dibangun dengan sangat mahal, tapi dihargai murah oleh warganya.
Masjid yang dibangun dengan penuh semangat, tapi tidak disertai semangat untuk memakmurkannya
Masjid yang yang sangat megah, tapi minat jamaahnya sangat meprihatinkan.
Masjid yang dibangun dengan sangat mahal, tapi dihargai murah oleh warganya.
Masjid yang dibangun dengan penuh semangat, tapi tidak disertai semangat untuk memakmurkannya
Inilah
potret nyata sebagian besar masjid-masjid kita di seluruh penjuru tanah air.
Lalu bagaimana dengan masjid kita sendiri? Mari kita lihat bersama….
Secara fisik, alhamdulillah bangunan masjid kita ini
sudah selesai 95%. Tinggal menyelesaikan tempat marbot dan pagar. Tapi secara
hakiki, pembangunan masjid ini baru selesai sekitar 7%!
Mengapa saya
katakan baru 7%? Karena sampai saat ini jumlah jamaah Subuh kita kurang-lebih
baru 80 orang. Sedangkan warga sekitar masjid kurang lebih ada 1200 orang. Ini
artinya masjid kita ini baru berfungsi 7% saja.
“Pembangunan
masjid ini baru selesai sekitar 7%!” Pernyataan inilah yang membuat hadirin
terpukau sejenak. Ternyata progresnya baru 7%, bukan 95% yang disangka oleh
banyak orang. Tapi, inilah fakta yang harus disadari… dan harus menjadi fokus pembangunan
di setiap masjid.
Bapak Ibu
dan hadirin yang saya hormati….
Kami sadar bahwa pembangunan fisik masjid itu penting. Tapi yang jauh lebih penting adalah membangun isinya. Fungsi utama masjid adalah untuk shalat. Karena itu, jika sebuah masjid jamaahnya sepi, maka berarti masjid tersebut belum berfungsi dengan semestinya.
Kami sadar bahwa pembangunan fisik masjid itu penting. Tapi yang jauh lebih penting adalah membangun isinya. Fungsi utama masjid adalah untuk shalat. Karena itu, jika sebuah masjid jamaahnya sepi, maka berarti masjid tersebut belum berfungsi dengan semestinya.
Tentang
shalat berjamaah di masjid, Nabi SAW pernah bersabda bahwa “Shalat berjamaah
lebih baik 27 derajat dibanding shalat sendiri” (Bukhari – Muslim). Dan
dalam surat At Taubat 18, Allah berfirman: “Sesungguhnya yang memakmurkan
masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari
akhir”.
Ini artinya, kita sebagai orang yang beriman diperintahkan untuk shalat berjamaah di masjid.
Ini artinya, kita sebagai orang yang beriman diperintahkan untuk shalat berjamaah di masjid.
Hadirin
rohimakumullah…
Untuk kesekian kalinya, kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi seluruh pihak atas bantuannya dalam membangun fisik masjid ini yang sudah tercapai 95%. Selanjutnya, mari kita bangun isinya dengan semangat seperti kita membangun fisiknya.
Untuk kesekian kalinya, kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi seluruh pihak atas bantuannya dalam membangun fisik masjid ini yang sudah tercapai 95%. Selanjutnya, mari kita bangun isinya dengan semangat seperti kita membangun fisiknya.
Dengan idul fitri, atau dengan memasuki bulan
syawwal, yg artinya adalah meningkat, yg diharapkan adalah meningkat kebaikan
kita, --keindahan, kebaiakn dan kebenaran kita, ilmu kita. Menigkat segala2nya,
krn itulah makna ksyukuran kpd Allah dan itulah tujuan dari idul fitri
No comments:
Post a Comment