Wednesday, August 7, 2013

'idul fitri



Alhamdulillah, puasa telah hampir selesai. Lebaran telah berada di ambang pintu. Wajar pada hari lebaran kita bergembira, karena kita harapkan bahwa kita telah kembali kpd fitrah. Kesucian.
Dulu, sewaktu kita pertama lahir kita tdk membawa dosa. sewaktu kita pertama lahir kita tdk menaruh dendam. sewaktu kita pertama lahir, segalanya kita lihat indah dan baik. Itulah makna fitrah.
Bpk2 – ibu2---

 
Selama puasa, kita menenun pakaian takwa, tujuan puasa, sebgaimana kita ketahui bersama, menurut al-quran, la’allakum tattaquun, Ketika seorang beridul fitri, dia mengenakan pakaian takwa, pakaian yang kita tenun slm bulan ramadhan. Pakaian yg mestinya kita pakai sepanjang saat. Khususnya setelah kita menempa diri selama sebulan penuh dgn berpuasa. Dalam konteks ini, kita mengingat pesan Allah. Walaa takuunu ka
Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, 92)

Maksudnya, janganlah kamu menjadi seperti seorang perempuan mengeruai kembali tenunanya seheleai demi sehelai, setelah ditenunkan
dengan idul fitri kita melepaskan kendali , kita melakukan hal2 yg tidak dibenarkan oleh agama.



Hadirin dan hadirat, ‘Aidin dan ‘Aidat, Faizin dan Faizat,
Baru saja kita rebahkan diri kita, bersimpuh di depan pintu kebesaran Allah yang Mahakasih Mahasayang. Baru saja kita mengakhiri salat kita dengan menyebarkan salam sejahtera kepada semua makhluk di sekitar kita. Sejak tadi malam sampai pagi ini, kita memenuhi langit dengan suara takbir kita. Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd!

Jauh dari kedalaman hati kita yang paling bening, terbersit rasa syukur yang tidak terhingga. Rasa syukur yang mengisi setiap pembuluh darah kita, mengalirkan kesejukan ke dalam pori-pori kulit kita, urat-urat syaraf kita, jaringan-jaringan daging kita, butir-butir darah kita, dan sampai ke dalam tulang sumsum kita. Seperti tetes-tetes embun di pagi hari, air mata kita perlahan-lahan menggenangi pipi kita. Air mata terima kasih kita kepada Dia Yang Mahasayang. Air mata kepuasan karena kita bisa berhari-raya lagi. Air mata kebahagiaan karena kita mendapat peluang untuk menyelesaikan puasa dan salat malam kita di bulan Ramadhan.

Dan inilah kita sekarang: Para aidin dan aidat, faizin dan faizat! Orang-orang yang berhari raya! Orang-orang yang merayakan kemenangan!
Kenanglah kesibukan kita di bulan Ramadhan:
Menahan lapar dan haus, mengendalikan hawa nafsu, membaca Al-Quran, menghadiri tadarusan, melakukan salat malam atau berbagi makanan kepada fuqara dan masakin.
Kenanglah malam-malam qadar ketika kita melantunkan doa-doa kita dalam kesepian atau dalam kerumunan, di rumah sendiri atau di rumah Tuhan.

Kenanglah sabda Nabi saw di tengah-tengah sahabatnya, lebih dari seribu empat ratus tahun yang lalu. “Pada malam Qadar, Allah memerintahkan malaikat Jibril untuk turun ke dunia bersama rombongan para malaikat…Ketika fajar terbit, Jibril berseru: Wahai para malaikat, kembalilah, kembalilah. Para malaikat pun menyahut: Ya Jibril, apa yang telah dilakukan Allah dalam memenuhi hajat-hajat kaum mukmin umat Muhammad? Jibril berkata: Allah swt telah memenuhi keperluan mereka – membahagiakan dan mengampuni mereka semua kecuali empat orang! Para sahabat bertanya: Ya Rasulallah, man hum? Siapakah mereka yang tidak diterima ibadatnya, yang ditolak doanya, yang tidak diampuni dosa-dosanya?

Dengarkan Nabi saw bersabda: Semua orang dipenuhi keinginannya kecuali empat orang:
رجل مدمن خمر، وعاق لوالديه، وقاطع رحم ومشاحن
orang yang terus menerus minum khamar, orang yang durhaka kepada orangtuanya, orang yang memutuskan silaturahmi, dan orang yang sedang bermusuhan (Al-Baihaqi, Syu’b al-Iman 3:336 hadis 3695; Rawdhat al-Wa’izhin 380, dari Imam Ali a.s).

Hadirin dan hadirat, Faizin dan Faizat:

Kita tahu, minum khamar adalah dosa besar. Alhamdulillah, kita semua berhasil menghindarinya. Yang tidak kita sadari adalah kenyataan bahwa seperti minum khamar, durhaka pada orang tua, memutuskan silaturahmi, dan meneruskan permusuhan adalah dosa-dosa besar. Karena dosa-dosa besar itu, pintu-pintu langit ditutupkan, ibadah-ibadah dicampakkan, doa-doa dilemparkan, dan permohonan ampunan ditolakkan.

Marilah kita kenang ibadah-ibadah kita di bulan Ramadhan. Ketika kita menadahkan tangan kita di atas sajadah kita, kenanglah apakah sebelumnya kita membuat orang tua kita murka atau sakit hati? Apakah kita menyakiti pasangan kita, saudara kita, sahabat kita, tetangga kita, atau pegawai kita? Apakah kita tidak mau meminta maaf dan tidak mau memaafkan? Apakah kita menyimpan dendam dan memelihara permusuhan? Dalam taman kehidupan, apakah kita menjadikan diri kita seperti rumpun berduri yang tumbuh di tengah jalan. Semua orang yang lewat pasti terluka karena duri-duri kita yang tajam. Bila kita menjawab ya, kita keluar dari bulan Ramadhan dengan tangan hampa. Tanpa ijabah doa. Tanpa ampunan Tuhan. Tanpa anugrah Ramadhan.

Tanyalah dirimu! Ketika lidah kita membacakan ayat-ayat suci, ingatlah apakah lidah yang sama telah me maki orang lain hanya karena fahamnya berbeda dengan kita, atau karena pendapatnya tidak kita setujui, atau karena kelakuannya tidak seperti yang kita inginkan? Apakah lidah kita telah menjadi ular yang menyemburkan bisa kepada semua orang. Bisa fitnah yang menjatuhkan kehormatan orang. Bisa namimah yang mengadu domba orang-orang yang saling mencinta. Bisa membongkar aib yang mempermalukan orang. Hitung berapa banyak hamba Allah yang merintih pilu, menderita karena bisa-bisa menyengat yang keluar dari mulut kita. 

Sambil memegang tirai Ka’bah, Nabi saw mengagumi rumah Tuhan: Betapa agungnya kamu. Betapa besarnya kamu. Tapi, demi Allah, yang jiwaku ada di tanganNya, jika ada orang yang meruntuhkan kamu, wahai Ka’bah, bata demi bata, kemudian menghancurkannya dan membakarnya, dosanya jauh lebih rendah daripada orang yang meruntuhkan kehormatan kaum mukmin.” Sunan Ibn Majah

Jika lidah kamu masih juga menghancurkan kehormatan orang, menyebarkan aib, fitnah, dan makian, kamu keluar dari bulan Ramadhan dengan tangan hampa. Tanpa ijabah doa. Tanpa ampunan Tuhan. Tanpa anugrah Ramadhan. 

Marilah kita bermuhasabah! Hari ini adalah hari yang paling layak untuk bermuhasabah! Ketika kita rukuk dan sujud di hadapan Tuhan, ketika kita merebahkan kepala kita di atas sajadah, apakah kepala kita itu di luar tempat salat kita dongakkan untuk menunjukkan kebesaran kita dan merendahkan orang lain? Nabi saw bersabda,
لن يدخل الجنة عبد في قلبه مثقال حبة من خردل من كبر
“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada perasaan sombong walaupun hanya sebesar debu saja!” (Bihar al-Anwar dan Mizan al-Hikmah 8:304)

Orang-orang yang sombong keluar dari bulan Ramadhan dengan tangan hampa. Tanpa ijabah doa. Tanpa ampunan Tuhan. Tanpa anugrah Ramadhan.

Orang-orang yang menyakiti sesama makhluk Tuhan, orang yang menyebarkan kebencian dengan fitnah, hasutan dan makian, orang-orang yang meruntuhkan kehormatan orang lain, orang yang sombong dan merasa diri paling benar dan paling soleh, adalah orang-orang yang memutus-mutuskan silaturahmi. Mereka dilaknat Allah di dunia dan akhirat.
Allah swt berfirman (Al-Quran, Surat Muhammad saw 22-23):
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ
“Bukankah apabila kalian berpaling dari ajaran Al-Quran, kalian akan berbuat kerusakan di bumi dan memutus-mutuskan silaturahmi. Mereka itulah orang-orang yang Allah laknat mereka. Allah butakan dan tulikan mereka”


Marilah kita memohon perlindungan kepada Allah yang Mahakasih dari perbuatan yang memutuskan silaturahmi.
Pada hari ini, mari kita bukakan gerbang-gerbang langit, mari kita luaskan pintu-pintu ijabah, dengan menyebarkan kasih sayang ke tengah-tengah manusia.

Mintakan maaf kepada semua orang yang pernah kita lukai hatinya: orangtua, pasangan hidup, karib-kerabat, tetangga dan sahabat-sahabat kita.
Mintakan maaf dengan tulus, karena maaf mereka adalah kunci untuk mendapatkan ampunan Tuhan; karena maaf mereka adalah wasilah untuk mengembalikan kepada kita pahala amal-amal saleh kita, keberkahan dan keselamatan, kemuliaan dan kebahagiaan.

Bertekadlah, mulai hari ini, demi kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat, kita hanya akan menyebarkan senyuman Sang Nabi saw, memaafkan orang yang berbuat salah, mengenyangkan orang yang lapar, menyembuhkan orang yang sakit, menghibur orang yang menderita, membantu orang yang kekurangan. Sekali lagi, marilah kita buka pintu-pintu ijabah, tirai-tirai kegaiban, dengan doa yang kita peroleh dari manusia-manusia suci:




Allhumma ashlih dzaata baynina wa allif bayna quluubinaa wajalnaa ibaadallahi ikhwaana
Ya allah perbauakilah hubungan antar kami. Harmoniskanlah hati kami dan jadikanlah kami hamba2mu yg bersaudara.
Alhhamummaj’alna minal a’idin alfaizin wal maqbuulin.
Ya allah jadikanlah kami orang2 yg kembali pada kesucian fitrahmu. Orang2 yg memperoleh pengampuan dan surgamu, serta orang2 yg diterima amal2 kebaikannya
Wa aid alaina ramahdna a’waam ba’da a’waam fiima tuhibbu wa tardha
Dan kembalikanlah kpd kami ramahdan tahun demi tahun dlm suka dan ridha wahai tuhan yg maha perkasa

 Imam nawawi berkata begini, “celakalah kaum ramadhaniyyun.2 x. apa itu ramadhiyyun,..adl orang2 yg klo menginat Allahnya di bulan ramadhan sj. Sblm ramadhan tidak ingat kpd Allah, usai ramadhan tdk ingat lg kpd Allah. Itu ada r…orangyg ibadahnya hanya di bulan suci..ramadhan.

Menyayangkan masjid yang begitu besar, tapi minat jamaahnya sangat kecil.
Masjid yang yang sangat megah, tapi minat jamaahnya sangat meprihatinkan.
Masjid yang dibangun dengan sangat mahal, tapi dihargai murah oleh warganya.
Masjid yang dibangun dengan penuh semangat, tapi tidak disertai semangat untuk memakmurkannya

Inilah potret nyata sebagian besar masjid-masjid kita di seluruh penjuru tanah air. Lalu bagaimana dengan masjid kita sendiri? Mari kita lihat bersama….
Secara fisik, alhamdulillah bangunan masjid kita ini sudah selesai 95%. Tinggal menyelesaikan tempat marbot dan pagar. Tapi secara hakiki, pembangunan masjid ini baru selesai sekitar 7%!
Mengapa saya katakan baru 7%? Karena sampai saat ini jumlah jamaah Subuh kita kurang-lebih baru 80 orang. Sedangkan warga sekitar masjid kurang lebih ada 1200 orang. Ini artinya masjid kita ini baru berfungsi 7% saja.
“Pembangunan masjid ini baru selesai sekitar 7%!” Pernyataan inilah yang membuat hadirin terpukau sejenak. Ternyata progresnya baru 7%, bukan 95% yang disangka oleh banyak orang. Tapi, inilah fakta yang harus disadari… dan harus menjadi fokus pembangunan di setiap masjid.
Bapak Ibu dan hadirin yang saya hormati….
Kami sadar bahwa pembangunan fisik masjid itu penting. Tapi yang jauh lebih penting adalah membangun isinya. Fungsi utama masjid adalah untuk shalat. Karena itu, jika sebuah masjid jamaahnya sepi, maka berarti masjid tersebut belum berfungsi dengan semestinya.
Tentang shalat berjamaah di masjid, Nabi SAW pernah bersabda bahwa “Shalat berjamaah lebih baik 27 derajat dibanding shalat sendiri” (Bukhari – Muslim). Dan dalam surat At Taubat 18, Allah berfirman: “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir”.
Ini artinya, kita sebagai orang yang beriman diperintahkan untuk shalat berjamaah di masjid.
Hadirin rohimakumullah…
Untuk kesekian kalinya, kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi seluruh pihak atas bantuannya dalam membangun fisik masjid ini yang sudah tercapai 95%. Selanjutnya, mari kita bangun isinya dengan semangat seperti kita membangun fisiknya.


Dengan idul fitri, atau dengan memasuki bulan syawwal, yg artinya adalah meningkat, yg diharapkan adalah meningkat kebaikan kita, --keindahan, kebaiakn dan kebenaran kita, ilmu kita. Menigkat segala2nya, krn itulah makna ksyukuran kpd Allah dan itulah tujuan dari idul fitri

No comments:

Post a Comment