Saturday, August 3, 2013

Hikmah


 

Etika Menolong Dalam Islam

7 March 2009

Oleh: Jalaluddin Rakhmat
Ada banyak nama untuk bulan Ramadhan. Nabi Muhammad SAW menyebutnya Bulan Keberkahan, Bulan Kesabaran, Bulan Ampunan, dan Bulan Berbagi (Syahr al-Muwasat). Pada bulan ini orang kaya bukan saja harus berbagi kekayaan dengan orang miskin, ia juga harus ikut berempati dengan penderitaan mereka. Orang beruntung harus berbagi kebahagiaan dengan orang yang malang.


Perintah untuk berbagi ini diingatkan dengan doa yang harus dibaca setiap selesai shalat wajib:
Ya Allah, masukkan kebahagiaan kepada para penghuni kubur
Ya Allah, kayakanlah semua orang yang miskin
Ya Allah, kenyangkan semua orang yang lapar
Ya Allah, beri pakaian semua orang yang telanjang
Ya Allah, tunaikan utang semua orang yang berutang
Ya Allah, lepaskan derita semua orang yang menderita
Ya Allah, kembalikan semua orang yang terasing
Ya Allah, bebaskan semua orang yang terpenjara
Ya Allah, sembuhkan semua orang yang sakit
Bersamaan dengan doa yang mereka lantunkan, semua Muslim harus menjadi tangan-tangan Tuhan untuk memenuhi doa itu. “Puasa itu hanya untuk Aku,” kata Tuhan. Puasa dipersembahkan hanya untuk Tuhan. Tidak ada persembahan yang paling agung selain perkhidmatan kepada makhluk-Nya. Mencintai Tuhan hanya dapat dilakukan dengan mencintai sesama manusia. Karena itu, amal yang paling dicintai Tuhan pada Bulan Berbagi bukanlah ibadah ritual yang bersifat individual, tetapi ibadah sosial yang membagikan kebahagiaan kepada orang banyak.
Mencintai Tuhan dengan mencintai manusia digambarkan Leigh Hunt, penyair Inggris, dalam kisah seorang sufi, Abou Ben Adhem, yakni Abou Ben Adhem (semoga kabilahnya bertambah) satu malam terbangun dari mimpinya yang indah. Dan ia lihat, di ruangan dalam cahaya terang rembulan, yang gemerlap ceria seperti bunga lili yang sedang merekah, seorang malaikat menulis pada kitab emas. Ketenteraman jiwa membuat Abou berani berkata kepada sang Sosok di kamarnya, “Apa yang sedang kamu tulis?”
Bayangan terang itu mengangkat kepalanya dan dengan pandangan yang lembut dan manis ia berkata, “Nama-nama mereka yang mencintai Tuhan.” “Adakah namaku di situ?” kata Abou. “Tidak. Tidak ada,” jawab malaikat. Abou berkata dengan suara lebih rendah, tapi tetap ceria, “Kalau begitu aku bermohon, tuliskan aku sebagai orang yang mencintai sesama manusia.” Malaikat menulis dan menghilang.
Pada malam berikutnya ia datang lagi dengan cahaya yang menyilaukan dan memperlihatkan nama-nama yang diberkati cinta Tuhan. Aduhai! Nama Abou Ben Adhem di atas semua nama.

Menolong mereka berarti menolong Aku

Abou Ben Adhem mungkin lahir di negara yang sekarang ini disebut Afganistan. Ia tidak begitu dikenal dibandingkan dengan teman senegaranya, Jalaluddin Balkhi (alias Rumi). Tetapi, keduanya menekankan pentingnya kecintaan kepada Tuhan sebagai hakikat keberagamaan.
Bagi kita semua, Rumi mendendangkan lagu ini:
Marilah kita jatuh cinta lagi/ Dan sebarkan debu emas ke seluruh penjuru Bumi/ Marilah kita menjadi musim semi baru/ Dan merasakan tiupan lembut dalam wewangian surgawi/ Marilah kita busanai bumi dalam kehijauan/ Dan seperti getah pohon yang muda/ Biarkan berkat dari dalam mengaliri kita/ Marilah kita ukir permata dari hati kita yang membatu/ Dan pancarkan cahayanya untuk menyinari jalan cinta/ Lirikan cinta sejernih kristal dan kita diberkati karena cahayanya.
Baik Abou Ben Adhem maupun Rumi percaya bahwa kita tidak bisa mencintai Tuhan tanpa mencintai sesama manusia. Mereka menegaskan kembali apa yang dikatakan Tuhan kepada hamba-Nya pada hari kebangkitan: pada hari kiamat, Tuhan memanggil hamba-hamba- Nya.
Ia berkata kepada salah seorang di antara mereka, “Aku lapar, tapi kamu tidak memberi makan kepada-Ku.” Ia berkata kepada yang lainnya, “Aku haus, tapi kamu tidak memberiku minum.” Ia berkata kepada hamba-Nya yang lainnya lagi, “Aku sakit, tapi kamu tidak menjenguk-Ku. ” Ketika hamba-hamba- Nya mempertanyakan semuanya ini, Ia menjawab, “Sungguh si fulan lapar; jika kamu memberi makan kepadanya, kamu akan menemukan Aku bersamanya. Si fulan sakit; jika kamu mengunjunginya, kamu akan menemukan Aku bersamanya. Si fulan haus; jika kamu memberinya minum, kamu akan menemukan Aku bersamanya.” (Ibn Arabi sering mengutip hadis ini dalam Al-Futuhat al-Makkiyah) .
Ketika seorang murid baru mengikuti tarekat, syaikh-nya akan mengajarinya untuk menjalankan tiga tahap latihan rohaniah selama tiga tahun. Ia baru diizinkan mengikuti Jalan Tasawuf bila ia lulus melewatinya. Tahun pertama adalah latihan berkhidmat kepada sesama manusia. Tahun kedua beribadat kepada Tuhan, dan tahun ketiga mengawasi hatinya sendiri. Kita tidak bisa beribadat kepada Tuhan sebelum kita berkhidmat kepada sesama manusia. Menyembah Allah adalah berkhidmat kepada makhluk-Nya.
Abou Said Abul Khayr terkenal sebagai sufi yang pertama kali mendirikan tarekat sufi. Ketika salah seorang pengikutnya menceritakan seorang suci yang dapat berjalan di atas air, ia berkata, “Sejak dahulu katak dapat melakukannya! ” Ketika muridnya kemudian menyebut orang yang dapat terbang, ia menjawab singkat, “Lalat dapat melakukannya lebih baik.” Muridnya bertanya, “Guru, gerangan apakah ciri kesucian itu?” Ia menjawab, “Cara terbaik untuk mendekati Tuhan adalah melakukan perkhidmatan sebaik-baiknya kepada sesama manusia, memasukkan kebahagiaan ke dalam hatinya.”
Mungkin karena perhatiannya yang sangat besar pada cinta kasih, tasawuf dianggap mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan agama Kristen. Tor Andrae, pernah menjadi bishop Lutheran dari Linkvping, mengungkapkan bagaimana Yesus sering dijadikan rujukan dalam ucapan-ucapan para sufi. Mereka belajar dari Yesus bukan saja tentang kesederhanaan hidup yang dijalankannya, tetapi juga perhatiannya untuk menolong orang lain.
Namun, kaum sufi bukan hanya merujuk kepada Kristus, mereka juga belajar jalan cinta dari Musa. Seorang syaikh menyampaikan cerita berikut ini, Kaum Bani Israil satu kali mendatangi Musa, “Wahai Musa, kami ingin mengundang Tuhan untuk menghadiri jamuan makan kami. Bicaralah kepada Tuhan supaya Dia berkenan menerima undangan kami.”
Dengan marah Musa menjawab, “Tidakkah kamu tahu bahwa Tuhan tidak memerlukan makanan?” Tetapi, ketika Musa menaiki bukit Sinai, Tuhan berkata kepadanya, “Kenapa tidak engkau sampaikan kepada-Ku undangan itu? Hamba-hamba- Ku telah mengundang Aku. Katakan kepada mereka, Aku akan datang pada pesta mereka Jumat petang.”
Musa menyampaikan sabda Tuhan itu kepada umatnya. Berhari-hari mereka sibuk mempersiapkan pesta itu. Pada Jumat sore, seorang tua tiba dalam keadaan lelah dari perjalanan jauh. “Saya lapar sekali,” katanya kepada Musa. “Berilah aku makanan.” Musa berkata, “Sabarlah, Tuhan Rabbul Alamin akan datang. Ambillah ember ini dan bawalah air ke sini. Kamu juga harus memberikan bantuan.” Orang tua itu membawa air dan sekali lagi meminta makanan. Tapi tak seorang pun memberikan makanan sebelum Tuhan datang. Hari makin larut, dan akhirnya orang-orang mulai mengecam Musa yang mereka anggap telah memperdayakan mereka.
Musa menaiki bukit Sinai dan berkata, “Tuhanku, saya sudah dipermalukan di hadapan setiap orang karena Engkau tidak datang seperti yang Engkau janjikan.” Tuhan menjawab, “Aku sudah datang. Aku telah menemui kamu langsung, bahkan ketika Aku bicara kepadamu bahwa Aku lapar, kau menyuruh Aku mengambil air. Sekali lagi Aku minta, dan sekali lagi engkau menyuruh-Ku pergi. Baik kamu maupun umatmu tidak ada yang menyambut-Ku dengan penghormatan. “
“Tuhanku, seorang tua memang pernah datang dan meminta makanan, tapi ia hanyalah manusia biasa,” kata Musa.
“Aku bersama hamba-Ku itu. Sekiranya kamu memuliakan dia, kamu memuliakan Aku juga. Berkhidmat kepadanya berarti berkhidmat kepada-Ku. Seluruh langit terlalu kecil untuk meliputi-Ku, tetapi hanya hati hamba-Ku yang dapat meliputi-Ku. Aku tidak makan dan minum, tetapi menghormati hamba-Ku berarti menghormati Aku. Melayani mereka berarti melayani Aku.”
Berbakti kepada sesama manusia bukanlah kewajiban sekelompok orang. Setiap Muslim apa pun jenis kelamin, usia, dan status sosialnya berkewajiban memperlakukan semua orang dengan baik.
Dalam Al-Quran juga ada perintah, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan- Nya dengan sesuatu pun. Berbaktilah kepada kedua orangtua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, orang-orang yang kehabisan bekal, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, yaitu orang-orang yang kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Kami telah menyediakan orang-orang kafir seperti itu, siksa yang menghinakan. ” (QS An Nisaa: 36-37)

Menolong Harus Tulus

Tindakan membahagiakan orang lain disebut sebagai shadaqah. Kata ini berasal dari “shadaqa”, yang berarti benar sejati atau tulus. Orang yang bersedekah adalah orang yang imannya tulus. Sedekah tidak selalu berbentuk harta atau uang. “Termasuk sedekah adalah engkau tersenyum ketika berjumpa dengan saudaramu, atau engkau singkirkan duri dari jalanan,” kata Nabi Muhammad SAW.
Untuk bisa menolong orang lain dengan tulus, kita memerlukan kecintaan tanpa syarat (unconditional love) kepada semua orang. Cinta inilah yang dimasukkan sebagai fitrah dalam hati kita. Cinta ini adalah seperseratus dari Rahmat Allah yang dijatuhkan Tuhan di Bumi.
Alkisah, bertahun-tahun yang lalu, seorang ibu dari salah seorang sultan dari Khilafah Utsmaniyah membaktikan hidupnya untuk kegiatan amal saleh. Ia membangun masjid, rumah sakit besar, dan sumur-sumur umum untuk daerah permukiman yang tidak punya air di Istanbul , Turki.
Pada suatu hari, ia mengawasi pembangunan rumah sakit yang dibiayai sepenuhnya dari kekayaannya. Ia melihat ada semut kecil jatuh pada adukan beton yang masih basah. Ia memungut semut itu dan menempatkannya pada tanah yang kering.
Tidak lama setelah itu, ia meninggal dunia. Kepada banyak kawannya, ia muncul dalam mimpi mereka. Ia tampak bersinar bahagia dan cantik. Kawan-kawannya bertanya, apakah ia masuk ke surga karena sedekah-sedekah yang dilakukannya ketika masih hidup? Ia menjawab, “Saya tidak masuk surga karena semua sumbangan yang sudah aku berikan. Saya masuk surga karena seekor semut.”
(Renungan ini semula berupa makalah dengan judul Die Ethik des Helfens im Islam, yang disampaikan Jalaluddin Rakhmat pada seminar “Die Ethik des Helfens aus der Sich verschiedener Religionen”, Basel, 8-13 September 2002).
Kunci Surga Yang Terbuang (Oleh KH. Jalaluddin Rakhmat)
23 Mei 2013 pukul 18:26
Kesetiakawanan dan cinta kasih inilah yang pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. dan sahabat-sahabatnya, seperti yang dikisahkan oleh seorang sahabat Nabi, “Suatu hari kami berkumpul bersama Nabi saw. menjelang siang hari. Tiba-tiba datanglah rombongan orang yang berpakaian hampir telanjang dan compang-camping, sambil bertelekan pada pedang-pedang mereka. Kebanyakan, bahkan seluruhnya, dari Bani Mudhar. Tiba-tiba wajah Nabi berubah melihat penderitaan mereka. Beliau masuk (ke hujrahnya) kemudian keluar dan menyuruh Bilal untuk mengumandangkan adzan. Setelah selesai mengerjakan shalat, Rasul yang mulia berkhutbah. Beliau membacakan beberapa ayat. Di antaranya: “Hai manusia takutlah kamu kepada Tuhan Pemeliharamu, yang menciptakan kamu dari diri yang satu … ‘sampai akhir ayat itu’ (Surah An-Nisa’); “Dan hendaklah setiap orang mempersiapkan bekalnya untuk masa depannya …” (Surah Al-Hasyr). Beliau menganjurkan supaya setiap orang mengeluarkan sedekahnya –sandang atau pangan. Berbondong-bondonglah para sahabat menyumbangkan apa yang mereka punyai, bahkan ada seorang Anshar memikul satu kantung yang begitu berat sehingga tangannya hampir tidak dapat membawanya. Aku lihat dua tumpuk makanan dan pakaian dan aku melihat wajah Rasulullah saw. bersinar-sinar karena kegembiraan. Setelah itu Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa yang memulai kebiasaan yang baik dalam Islam, maka baginya ganjaran dan ganjaran orang yang mengikuti kebiasaan baik itu sesudahnya. Barangsiapa memulai kebiasaan yang jelek dalam Islam, maka baginya dosa (karena memulai kebiasaan jelek itu) dan dosa orang yang melanjutkan kebiasaan jelek itu sesudahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.” (Tafsir Ibnu Katsir 4:342).

Dalam peristiwa ini, kebiasaan yang baik, sunnah hasanah itu adalah menggerakkan umat Islam untuk bersama-sama membantu meringankan penderitaan sesama Muslimin; dan kebiasaan yang, sunnah sayyiah, ialah membiasakan bersikap acuh tak acuh kepada penderitaan orang lain. Dengan demikian, sunnah hasanah ialah memandang kemiskinan sebagai masalah sosial yang pemecahannya harus dilakukan lewat aksi sosial; dan sunnah sayyiah ialah memperlakukan kemiskinan sebagai masalah individu yang harus diselesaikan sendiri oleh individu-individu yang bersangkutan.

Anda menghidupkan sunnah sayyiah bila Anda berpikir bahwa orang itu miskin karena bodoh, tidak mau bekerja keras, kurang hasrat berprestasi, tidak memiliki jiwa wiraswasta, fatalistis, pasrah kepada nasib, atau barangkali juga karena dosa-dosa yang pernah mereka buat. Pada suatu pertemuan, para cendekiawan Muslim internasional, utusan dari setiap Negara menyampaikan kemiskinan dan kesengsaraan saudara-saudaranya, terkadang dengan deraian air mata yang tak tertahankan. Mengharukan. Tetapi, sebelum pertemuan selesai, para cendekiawan menyimpulkan bahwa kemiskinan dan kesengsaraan ini bersumber dari kebodohan kaum Muslimin. Lalu, dengan semangat, peserta membeberkan cacat kaum Muslimin dewasa ini. Kembali, sang korban yang disalahkan! Kemiskinan menjadi masalah individual. Menurut Al-Qur'an, ini kecenderungan orang-orang yang menumpuk kekayaan : “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat dan pencela. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya”. (QS.104:1-3).

Al-Qur’an menyindir orang-orang yang, ketika diberi kekayaan, merasa dimuliakan oleh Allah (dengan sifat-sifat yang baik), dan ketika diberi kemiskinan, mereka mengira Allah menghinakannya. “Sekali-kali tidak demikian.” Kemudian Allah menyebutkan penyebab kemiskinan adalah kecenderungan untuk tidak memuliakan anak yatim, tidak adanya usaha bersama untuk membela orang miskin, kecenderungan untuk menggunakan sumber-sumber daya (at-turats) secara rakus, dan kecintaan yang berlebih-lebihan pada harta benda. Islam memandang kemiskinan sebagai akibat dari sistem sosial yang timpang, dari kekurangan solidaritas sosial, dari sunnah sayyiah di masyarakat.

Jadi, kalau terjadi kemiskinan yang meluas di masyarakat, siapakah yang paling bersalah? Nabi Muhammad saw. menjawab: “Sesungguhnya Allah mewajibkan atas orang-orang kaya Muslimin untuk mengeluarkan harta mereka seukuran yang dapat memberikan keleluasaan hidup bagi orang-orang miskin. Dan tidak mengalami kesengsaraan orang-orang miskin, bila mereka lapar atau telanjang, kecuali karena perbuatan orang-orang kaya juga. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban orang-orang kaya itu dengan pengadilan yang berat dan akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih.” (HR. Thabrani). Sayyid Sabiq menyertakan hadis ini setelah memberikan tafsir atas ayat AL-Qur’a: “Dan orang-orang yang pada hartanya ada hak yang tersurat, bagi yang meminta pertolongan dan yang melarat”. (QS. 70:24-25). Kata Sayyid Sabiq, “Inilah hak orang-orang yang memerlukan ada harta orang-orang kaya; yang ukurannya sejumlah apa yang memenuhi kebutuhan pokok mereka berupa sandang, pangan dan papan, serta kebutuhan-kebutuhan pokok lainnya yang amat dibutuhkan oleh manusia supaya ia hidup layak sebagai manusia.” (Islamuna : 251).

Boleh jadi Anda berpendapat: Bukankah kewajiban kita selesai bila kita sudah mengeluarkan zakat? Pertanyaan yang sama pernah disampaikan oleh sahabat kepada Rasulullah saw. Beliau menjawab, “Sesungguhnya pada harta itu ada hak selain zakat”. Lalu beliau membaca ayat: “Bukanlah kebaikan itu menghadapkan wajahmu ke timur atau ke barat, tetapi kebaikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir, para malaikat, al-kitab dan para nabi, serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang miskin, musafir, orang-orang yang meminta pertolongan, dan mereka yang ingin membebaskan dirinya dari perbudakan; mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat; memenuhi janji bila berjanji, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang takwa”. (QS. 2:177). Hak inilah yang harus Anda berikan ketika ada orang meminta tolong kepada Anda buat biaya rumah sakitnya, padahal pada diri Anda ada kelebihan uang. Hak ini juga yang harus Anda sampaikan kepada siswa yang tidak akan dapat melanjutkan sekolahnya bila Anda tidak memberikan hak itu kepadanya. Hak inilah yang harus dituntut oleh orang-orang miskin dari orang-orang kaya bila mereka mengalami kesulitan hidup.
Kesulitan hidup terjadi bila kebutuhan pokok –basic needs- tidak terpenuhi. Bila ada sejumlah orang yang kelaparan dan ada segelintir orang hidup mewah, maka yang lapar boleh menuntut haknya dengan paksa. Ketika menafsirkan ayat: “Jika salah satu di antara kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah” (QS. 49:9), Ibn Hazm menyatakan bahwa orang lapar boleh menggunakan paksaan untuk meminta haknya dari orang kaya dan menyerangnya jika orang kaya itu menahan haknya. “Bila penyerang itu terbunuh, maka pembunuhnya harus membayar denda, dan jika ia berhasil membunuh orang yang diserang, yang terserang itu terkutuk dan mendapat laknat Allah karena ia tidak memenuhi hak orang lapar dan ia termasuk orang yang berbuat aniaya seperti dimaksud dalam ayat ini.” (Al-Muhalla : 159). Nah!

Ibn Hazm mungkin agam “ekstrem”. Tetapi ia berpijak pada satu asumsi bahwa kemiskinan hanya dapat diatasi dengan kesediaan orang kaya memberikan hak orang miskin yang diamanatkan Allah kepadanya. “Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.” (QS. 57:7). Bahwa kemiskinan dan keterbelakangan adalah tanggung jawab kita bersama ditegaskan berulang kali, baik dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Marilah kita sebutkan sebagian di antaranya:

1. Menolong dan membela yang lemah, mustadh’afin, adalah tanda-tanda orang yang takwa (QS. 2:197, 3:134, 76:8-9, 70:24, 51:19).

2. Mengabaikan nasib mustadh’afin, acuh tak acuh terhadap mereka, enggan memberikan pertolongan, akan menyebabkan ia menjadi pendusta agama dan shalatnya akan membawa kecelakaan (QS. 107); menjerumuskan ke neraka saqar (QS. 74:42); imannya tidak ada (“Tidak beriman kepadaku yang tidur kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya.” –HR. ath-Thabrani dan al-Bazzar); dan ia tidak dihitung sebagai orang Islam (“Barangsiapa tidak mau memperhatikan urusan kaum Muslimin, maka ia tidak termasuk kelompok mereka.” –HR. al-Hakim dan ath-Thabrani).

3. Membela nasib mustadh’afin merupakan amal utama yang mendapat pahal yang lebih besar daripada ibadah-ibadah sunnah.“Barangsiapa di waktu pagi berniat untuk membela orang yang teraniaya dan memenuhi kebutuhan seorang Muslim, baginya ganjaran seperti ganjaran haji yang mabrur. Hamba yang paling dicintai Allah ialah yang paling bermanfaat buat manusia. Seutama-utamanya amal ialah memasukkan rasa bahagia pada hati orang beriman –melepaskan lapar, membebaskan kesulitan, atau membayarkan utang.” (Sayyid Sabiq, Islamuna:120; Ibnu Hajar, Nashaihul ‘Ibad:4, HR. Ath-Thabrani).

“Orang yang bekerja keras untuk membantu janda dan orang miskin adalah seperti pejuang di jalan Allah atau (aku kira ia berkata) seperti yang terus menerus shalat malam atau terus menerus puasa.” (HR. Muslim).

“Barangsiapa berjalan untuk memenuhi keperluan saudaranya pada satu saat di siang hari atau malam hari, ia berhasil memenuhinya atau tida berhasil, itu lebih baik baginya daripada I’tikaf dua bulan.” (HR. Al-Hakim dan Ath-Thabrani).

“Barangsiapa membebaskan seorang mukmin dari kesusahannya atau menolong orang yang teraniaya, Allah berikan kepadanya 73 ampunan.” (HR. Ibnu Hibban).

Tanpa harus menyebutkan nash-nash di atas pun, orang-orang yang mempelajari Islam, membuka Al-Qur’an dan As-Sunnah, akan segera menemukan perhatian yang besar dari ajaran Islam terhadap problem kemiskinan dan keterbelakangan. Tidak perlu dirumuskan teologi pembebasan. Yang diperlukan umat Islam kini ialah data yang kongkret bahwa kemiskinan adalah bencana sosial yang kini mengancam eksistensi umat Islam. 

Setelah menyajikan data tentang kemiskinan pada negara-negara Islam serta akibat-akibatnya pada kelaparan, kekurangan gizi dan berbagai penyakit yang berbahaya, Dr. Nabil Subhi ath-Thawil menulis:"Pada masa sekarang, bertebaran puluhan juta kaum Muslimin yang lapar, sakit dan buta huruf di negara-negara yang dilanda paceklik dan kekeringan, wabah serta kemelaratan sempurna. Mereka semua adalah kaum mustadh’afin yang terlantar, baik yang disebabkan ulah para penguasa dari bangsa mereka sendiri ataupun akibat kelicikan orang-orang dari Negara asing ataupun perseroan-perseroan dan lembaga-lembaga asing yang misterius. Padahal orang-orang sengsara itu sedang menunggu uluran tangan dan pertolongan serta solidaritas dari saudara-saudara mereka sendiri. Mengapa para juru dakwah hanya sedikit sekali menyebutkan tentang keadilan sosial Islami dan tidak menonjolkannya secara kuat dalam dakwah-dakwah mereka?"

Benar. Mengapa juru dakwah terlalu sibuk dalam urusan furu’ dan melupakan masalah kemelaratan umat yang dibimbingnya? Dan, kalaupun ingat, mengapa ia melihat kemiskinan itu sebagai kesalahan penderita dan bukan memandangnya sebagai masalah sosial yang harus diselesaikan bersama? Bukankah pernah ada da’i yang melarang jama’ah memberikan sedekah kepada fakir miskin di sekitar masjid, karena sedekah itu mendidik mereka malas dan tidak mau mengubah nasibnya; tetapi da’i itu tidak menggerakkan umat untuk bersama-sama memberikan mereka lapangan pekerjaan, sehingga mereka tidak lagi malas dan nasibnya berubah.

Lewat buku ini, Dr. Nabil Subhi Ath-Thawil mengetuk para da’i untuk berjalan di barisan paling depan dalam menanamkan kesetiakawanan sosial, menghimbau para hartawan untuk memberikan hak fakir miskin yang diamanatkan oleh Allah kepada mereka, memohon para ulama mencegah kemungkaran dan kezaliman yang berupa pengisapan dan pemerasan, mendesak para penguasa supaya berdiri di samping si lemah dan membelanya dari kelaliman sistem ekonomi, dan akhirnya mendorong para pelajar dan mahasiswa untuk mendalami sains dan teknologi serta membaktikannya buat kesejahteraan kaum Muslimin. Dengan singkat, ia menghimbau seluruh jajaran umat untuk menunjukkan kesetiakawanan mereka kepada kaum mustadh’afin dengan kelebihan yang diberikan oleh Allah kepada mereka; ilmu, harta, kekuasaan, tenaga atau keahlian.

Membela fakir miskin adalah melanjutkan tugas Rasul dalam “membuang beban-beban (penderitaan) dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka” (QS. 7:157). Bukankah Rasulullah saw. berkata, “Kamu ditolong dan diberi rizki karena bantuan orang-orang lemah di antara kamu.” (HR. Ash-habus Sunan). Kepada istrinya, beliau berpesan, “Wahai Aisyah, cintailah orang miskin dan akrablah dengan mereka, supaya Allah pun akrab juga dengan engkau pada hari kiamat.” (HR. AL-Hakim). Dan kepada kita semua, beliau berwasiat, “Segala sesuatu ada kuncinya, dan kunci surga ialah mencintai orang-orang miskin.” (HR. Ad-Daruqithni dan Ibn Hibban). Lewat pemaparan yang ilmiah, dengan ditunjang oleh nash-ash Al-Qur’an dan As-Sunnah serta data empiris. Dr. Nabil Subhi Ath-Thawil ingin mengembalikan lagi, kepada kita, kunci surga yang terbuang. Seakan-akan ia menggemakan sajak WS Renda :Orang-orang miskin Orang-orang di jalanan Yang tinggal di dalam selokan Yang kalah di dalam pergulatan Yang diledek oleh impian Janganlah mereka ditinggalkan.

Berlarilah Menuju Allah
5 February 2009
Oleh : Dr. Jalaluddin Rahmat
Islam adalah agama yang melanjutkan tradisi Ibrahim as. Ibadat haji, misalnya, adalah salah satu contoh tradisi Ibrahim yang masih terus dilaksanakan. Demikian juga dengan ibadat kurban. Dalam ibadat salat, kita mengakhiri salat kita dengan membaca salawat kepada Ibrahim dan keluarganya, di samping kepada Muhammad saw dan keluarganya.

Al-Quran pun banyak menceritakan perjalanan kehidupan Ibrahim. Berkaitan dengan hal ini, Al-Quran mengisahkan saat Tuhan bertanya kepada Ibrahim: Fa ayna tadzhabun. Lalu, akan ke mana kamu pergi? (QS. Al-Takwir; 26) Al-Quran mengisahkan jawaban Ibrahim: Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. (QS. Al-Shaffat; 99)
Pertanyaan fa ayna tadzhabun, “Lalu ke mana kamu pergi?” juga dikenal dalam istilah Latin yang menyebutnya, “Quo Vadis?” Istilah Latin itu ditujukan untuk orang yang agak menyimpang atau aneh. Demikian pula dengan Al-Quran. Dengan itu Al-Quran bertanya kepada orang-orang yang jalannya melenceng; kepada mereka yang ada di persimpangan jalan. Pertanyaan itu mengandung arti apa sebenarnya tujuan akhir dari perjalanan hidup kita. Apakah itu berupa karir, kedudukan, kekayaan, atau kemasyhuran.
Seperti jawaban Ibrahim as, seorang sufi adalah ia yang telah mengambil keputusan bahwa perjalanannya adalah untuk menuju Tuhan. Dalam hidupnya, seorang sufi senantiasa pergi ke arah hadirat Tuhannya.
Allah menciptakan manusia dari tanah yang merupakan lambang dari kehinaan dan kekotoran. Al-Quran menyebutkannya sebagai nuthfah atau saripati tanah. Setelah proses penciptaan dari tanah itu, Allah menyatakan: Lalu aku tiupkan ke dalamnya ruh-Ku. (QS. Al-Hijr; 29)
Karena terbuat dari tanah, sifat kemanusiaan (basyariyyah) manusia menjadi selalu kotor. Seorang sufi ialah ia yang ingin menafikan kekotoran basyariyyah-nya, yakni seluruh sifat tanahnya, dan ingin menyerap unsur ruh Tuhan yang ditiupkan kepadanya. Ia meninggalkan sifat tanahnya untuk kemudian pergi dalam perjalanan menuju Allah. Perjalanan dari unsur tanah kepada unsur ruh Ilahiah itulah yang dikenal sebagai tasawuf.
Al-Quran senantiasa mengingatkan kita untuk mulai berangkat menuju Tuhan. Allah swt berfirman: Oleh karena itu, bersegeralah berlari kembali menuju Allah. (QS. Al-Dzariyat; 50)
Al-Quran tidak hanya menyuruh kita untuk berjalan, tetapi ia bahkan memerintahkan kita berlari kepada-Nya. Hidup adalah terlalu singkat untuk diisi dengan pergi menuju Tuhan dengan cara berjalan. Kita harus berlari sebelum waktu kita di dunia habis dan berakhir.
Kita harus berlari dari segala yang menarik perhatian kita, menuju kepada satu, Allah swt. Sebuah hadis riwayat Ahmad dan Al-Thabrani berbunyi, “Barangsiapa yang mendekati Allah sesiku, Dia akan mendekatinya sehasta. Barangsiapa mendekati Allah sambil berjalan, Allah akan menyambutnya sambil berlari.” Balasan dari Allah selalu lebih hebat dari apa yang kita lakukan. Dalam Al-Quran surat Luqman, ayat 15, Allah swt juga berfirman: Ikutilah jalan orang yang kembali pada-Ku. Kemudian, hanya kepada-Kulah kembalimu. Lalu Aku memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Nabi saw pernah bertanya kepada para sahabatnya, “Bagaimana keadaan kalian, seandainya di antara kalian suatu saat berada di padang pasir membawa perbekalan dan unta, lalu kalian tertidur; dan ketika bangun, kalian mendapati unta dan perbekalanmu hilang?” Para sahabat menjawab, “Tentu cemas sekali, ya Rasulallah!” Rasulullah melanjutkan, “Di saat kalian cemas, tiba-tiba kalian lihat unta itu kembali dari tempat jauh dan menghampiri kalian dengan membawa seluruh perbekalanmu. Apa perasaan kalian?” Para sahabat kembali menjawab, “Tentu kami akan bahagia sekali.”
Nabi yang mulia lalu berkata, “Allah akan lebih bahagia lagi melihat hamba-Nya yang datang kepada-Nya daripada kebahagiaan seseorang yang kehilangan unta kemudian ia melihat untanya datang kembali kepadanya.”
Berulang kali Allah mengingatkan kita untuk mengikuti jalan orang yang kembali padanya. Menurut para sufi, jalan yang dimaksud itu adalah jalan tasawuf. Karena para sufilah yang kembali kepada Allah. Salah satu jalan kepada Allah itu adalah dengan menyucikan diri -meninggalkan unsur tanah kita untuk menyerap sifat-sifat Allah.
Perjalanan menuju Tuhan harus dilakukan dengan menyucikan diri dan membersihkan hati. Hati kita sering terkotori dengan dosa yang kita lakukan. Dosa-dosa itu menghijab kita dari Tuhan. Mereka yang mampu berjumpa dengan Tuhan adalah mereka yang membawa hati yang bersih; bukan yang membawa harta dan anak-anaknya.
Dalam bahasa Arab, kata tazakka yang berarti menyucikan diri, juga berarti “tumbuh”. Oleh karena itu, di dalam Islam, pertumbuhan seseorang diukur dari tingkat kesucian dirinya. Semakin suci dan bersih seseorang, semakin tinggi pulalah derajatnya.
Psikologi Humanistik juga mengenal hal ini. Abraham Maslow menyebut puncak pertumbuhan manusia adalah pertumbuhan kepribadiannya. Ia menamakannya dengan aktualisasi diri atau self actualization. Islam menyebutnya tazakka.
Upaya kita menyucikan diri harus kita iringi dengan proses meninggalkan rumah kita. Allah swt berfirman: Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud untuk berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, lalu kematian menjemputnya, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah….(QS. Al-Nisa; 100).
Biasanya orang menafsirkan ayat ini secara harfiah; dengan mengartikannya sebagai orang yang pergi meninggalkan Mekkah menuju Madinah dalam peristiwa Hijrah. Para sufi menafsirkan kata “rumah” dalam ayat itu sebagai diri, egoisme, atau keakuan kita.
Kita selalu berpikir akan kepentingan pribadi semata. Bila kita beribadat, itu pun dilakukan dalam konteks kepentingan diri kita. Kita bersedekah untuk menolak bencana demi keselamatan diri kita. Kita menunaikan salat agar terhindar dari neraka dan mengharapkan pahala. Kita sering beribadat dengan ibadat para pedagang. Kita menjual ibadat kita untuk ditukar dengan pahala. Dalam ibadat, kita mengutamakan kepentingan pribadi kita.
Hal ini berbeda dengan para sufi. Mereka berupaya keluar dari “rumah” mereka. Mereka beribadat bukan karena mengharap pahala tetapi karena rasa terima kasih kepada-Nya. Mreka merasa berutang budi atas segala anugrah Allah kepada mereka. Itulah ibadat yang sesungguhnya. Hubungan sufi dengan Tuhannya bukanlah hubungan bisnis, melainkan hubungan cinta.
Al-Quran menyebut orang yang beribadat kepada Tuhan tanpa meninggalkan dirinya -karena terlalu cinta akan dirinya, sebagai orang yang telah mengambil tuhan selain Allah. Ia mencintai dirinya lebih dari ia mencintai Tuhan. Allah swt berfirman: Di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sama seperti mereka mencintai Allah. Sementara orang-orang yang beriman sangat mencintai Allah. (QS. Al-Baqarah; 165)
Tulisan ini diawali dengan kisah Ibrahim dan ditutup dengan kisah Ibrahim pula. Syahdan, Ibrahim as akan meninggal dunia. Malaikat Izrail datang untuk mencabut nyawanya. Ibrahim berkata kepadanya, “Mana mungkin sang Khaliq mematikan kekasih-Nya?” Ibrahim seakan menggugat mengapa seorang pencinta mematikan pencintanya. Allah lalu menjawab, “Bagaimana mungkin seorang kekasih tak mau berjumpa dengan kekasihnya?” Mendengar jawaban agung itu, Ibrahim berkata, “Kalau begitu, ambillah nyawaku sekarang juga.”
Dalam sebuah hadis qudsi, Tuhan melukiskan dengan indah keadaan seseorang yang telah sampai dalam perjalanan mendekati-Nya: “Tidak henti-hentinya hamba-hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan ibadat-ibadat nawafil (di samping ibadat fardhu) hingga Aku mencintainya. Kalau Aku sudah mencintainya, Aku akan menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar; Aku akan menjadi matanya yang dengannya ia melihat; Aku akan menjadi tangannya yang dengannya ia memegang; Aku akan menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia bermohon kepada-Ku, Aku akan mengabulkan permohonannya. Jika ia berlindung kepada-Ku, Aku akan melindungi dirinya.” (HR. Bukhari)

Menjadi orang yg arif
Definisi arif itu apkh sama dgn org yg bijak?
Seringkali kita tumpang tindih (confuse) antara arif dgn org pintar. Tdk smua org pintar itu arif. Org pintar, blm tentu arif. Contohnya: ada org pintar, ilmuny bukan main, banyak, bahkan mungkin sarjana, doctor, atau guru besar. memang dia ilmuwan blm tentu arif. Bahkan ada kecenderungan ilmuwan, tapi kesannya kurang arif. Mungkin ada unsur ksmbiongan, mungkin tdk bias menmpatkan diri dgn lingkunganny, mungkin jg terkesan kasar, mungkin jg terkesan  angkuh, bahkan mungkin krn pintarnya, menyepelekan menghina orang lain. Dia pintar, tp tdk arif. Sedangkan orang arif, insy Allah disamping pintar, dia pintar. Arif adlh bijak, pandai menempatkan diri, pandai menempatkan orang lain pd tempatnya, pandai membaca situasi, pandai mengemukkn pendapatnya dgn baik, pandai menegur org lain tanpa tersinggung.                Pokoknya orang2 arif itu, ialah, sangat santun, cirinya, ---- sgt bersahabat, tp sebaliknya klo hanya mengandlkn kelimuan, orang pintar. Itu tdk satu jaminan dia itu arif.
Arif ini juga tdk langsung diperoleh bgt saja. Menjadi org arif memerlukan proses. Mmerlukan latihan yg sangat panjang. Tdk bisa spt membalikkan telapak tangan “sys dh mnjd orang arif, nih.! Kearifan itu predikat org lain kpd kita. Sama sprt kiai. Bnyk org yg mengklain, sy ini kan arif. Mengaku dirinya bijak, padahal kan orang lain yg menilai. Nah,..masyr ideal itu adl masy yg terdiri atas org2 arif. Menjadi arif itu tidak ada cara lain kecl dgn dengan Tuhan. Ini kata kuncinya. Sklipun org mengkalim dirinya org arif, tp jauh dari tuhan—itu sulit. Aplagi dlm termoinologi Islam. Krn pengethuan ada yg diperoleh dgn olah nalar, itu disebut ilmun bhs arabnya., ttp ada jg pengetahuan yg diperoleh mll olah batin, itu disebut dgn ma’rifah. Seakar kata dgn arif tadi. Jadi org yg memiliki ma’rifah, orangnya disebut dgn arif. Jadi arif itu, bhs arab, persyaratanya: harus dekat dgn Tuhan. Orang arif itu persyaratnnya, disukai oleh sesamanya, orang arif itu adl santun, tidak ada orang arif yg angkuh. Sering dikatakan ulama, bahwa orang arif itu tidk gampang menylahkan orang, klo ada orang gampang menylhkan orang lain, siapapun dia, semua orng slah kecuali dirinya sendiri, menurut hemat sy, orang itu masih harus belajar. Tp klo sdh mengintrpksi diriny sndri, menyalahkan dirinya, itu sdh mulai belajar. Tp klo tdk menyalahkan siapapun, sudah selesai belajar. Krs sudah arif. Orang arif itu, tidak pernah mencari akmbing hitam, menylhkan orang lain.                Tp berusaha utk mengubah keadaan yg tidak bagus menjadi bagus tanpa harus menuding batang hidung orang lain. Jadi bukanlah orang yg hebat, menyalahakn orang lain, menylahkan keadaan. Org yg airf adl, tanpa menyalahkan siapaun, tp betul2 berkeringat memperbaiki keadaan. Tanpa pernah menepuk dada, dan tanpa pernah mendemonstrasikan.
Orang arif tdk membutuhkan pujian,----pengakuan orang lain. Bahkan klo ada yg memujinya, takut. Sy tdk pantas utk dipuji,   yg pantas dan harus dipuji hanya Allah. Apa yg kami peroleh hanyalah milik Allah swt. Jadi semakin dipuji semakin sedih dan semakin takut. Tp klo org tdk ikhlas, smkn dipuji semakin lehernya panjang . klo tdk dipuji marah. Ini pertanda org itu tll besar egonya.       

Apakah kearifan tergantung dgn asam garamnya kehidupan?    
Kearifan bisa diperoleh melalui garam kehidupn yg pernah kita lewati. Mestinya itu menjadi pelajaran utk kita semua. Idealnya, smakin tinggi usia seseirang,     maka semakin arif.  Walaupun tdk otomatis, krn banyak org yg usianya sdh berumur, tp kematangan spritiualnya, kmtangan intelktualny tdk pernah meningkat. Yg kita idealkan, mestinya semakin pintar seseorang itu mestiny smkin arig juga. Ttp dlm kenyataan, ada yg semakin pintar tp tdk berbanding lurus dgn kearifanny. Jika ini terjadi, mungkin ada keselahan teknis. Mungkin dari segi metodologi pelajranny di sekloah. Ada masalah. Skrng ini yg kita miliki adalh para pengajar, jarang sekali tampil sbg pendidik. Lain pengajar, lain pendidik. Klo pengajar mentransfer ilmuny kpd muridny, mau mengamalkan atau tdk itu urusan dia. Mau mencontohkan apa yg diajarkan itu urusan aku. Tdk ada ketentuan aku harus menjalani apa yg aku ajarkan. Itu pengajar. Tapi klo pendidik, bukan hanya mentransfer ilmu kpd anak didiknya, tp juga di balik ilmu itu ada kesadaran, di samping itu juga dirinya mengamlkan apa yg dia ajarkan. Dgn demikian ini dia pendidik yg sejati. Bnyk sekali yg kita tampilkan sehari2 bukan prototype seorang pendidik, tp prototp soernag pengjar. Ini intropeksi utk apakah sy tampil sbg pengajra atau pendidik. Krn akan tampil org2 pintar tanpa kearifan.

Bgmn mearaih kearifan yg sempurna? Yaitu harus banyak belajar. Tp proses pembelajaran itu ada dua macam, ada pembelajran mll penalaran dan proses penalaran ini bisa melalui pendidikan formal. ----informal, ---nonformal. Ini beda2. –pendidikan tdk resmi, ototdidak. –ada lagi pendidikan nonformal, ada gurunya jg tp tidak formal. Tapi harus plus, yaitu penghayatan. Penghayatan itu artiny jiwa yg berfikir. Jadi ada kesadaran, kita bljr bahwa ini adl baik, ini itu buruk. Nah , tampilkan baik itu baik, buruk itu buruk di dalam prilaku kita sendiri. Nah itu baru kita bisa menjd org yg arif.klo kita hanya mengatkn solat itu wajib, tp tdk melaksnkan solat. Nah itu pintar, klo diuji pasti lulus. Tp tdk arif, krn dia tdk mengamalkan. Kearifan itu, tdk perlau banyak tahu, tp mengalamkan dan menghayati ssuai dgn tuntutan2 ajaran agama. Oh, dia itu professor, tp dia tdk pernah mengamalkan. Ilmu kita sedang2, tp insya Allah kit pertanggungjawabkan duania akhirat krn kita amalkan.

Bagaiman caraorang istiqamah menjadi orang yg arif.
Ada orang hari ini arif, besok tdk arif. Ada orang tahun ini arif, berubah tahun tidak arif. Perubahan tdk mengalami kea rah postif. Harus ada keberanian melawan diri sendiri, hrs ada ketakutan kepd tuhan. Dan harus istiqamah. Lakukanlah slrh perintah tuhan. Malu melakukan keburukan, dosa. Dan tdk bangga melkkan kebaikan. Menyembunyikan diri ktk melakuakn kebaikan, itu cara kita memupuk kearifan dlm diri sendiri. Bnyk orang malu mlkkn keburukan, tp bangga melakukan kebaikan.    
Bgmn kearifan rasulullah.
Kearifan rasulullah, beliau model kehidupan: arif. Bukan hanya arif, tapi pintar. Slh satu contoh kearifan, semenjak kecil sblm nabi. Kearifannya rasul, klo kambing sakit digendong, tdk pernah kambingnya kehausan, maka nabi diperbutkan juragan kambing. Lalu menjadi pedanang, sampai ke luar negeri: syam. Kearifan nabi, takjub orang melhiatnya. Kearifan rasulullah pada saat orang melihat bertengkar di kakbah, siapa yg akan meletakkan hajar aswad. Raja: sy kan raja, orang kaya: sy kan yg menjadi sponsoprnya. Bertengkar, masing2 memperbutkan siapa yg akan meletakkan batu itu. Dari situlah muncul predikat al amiin. Jadi seblm nabi sj arif, bagaman setelah nabi. Kita ngin mnecontoh kearifan nabi. Nabi sbg suami, luar biasa arifnya. Panglima perang,  kpl Negara, sbg nabi dan rasul.

Alim= taat soleh dlm bahasa Indonesia. Penyebrangan bhs Arab ke dalam bhs indo sring salah kaprah. Muriid = anak sekolahan, padahal murid itu harus santun. Gak bisa disebut mrd kl kruang ajar.
Ada data yg menarik, buku Michel harta dari 100 tokoh, hanya dihitung dgn jari yg dari pendidiakn formal, s . jgn pernah mengganngap enteng orang yg tdk pernah bangku kuliah.


Kearifan itu ada kosnya. Ada biayanya. Ada perjuangannya Kearifan itu biasanya lahir stlh kita menjalanin tantangan. Coba lihat orang tua, tantangannya kurang akhirnya kearifannya kurang. Orang2 yg banyak tantangannya, lbh tebal kearifannya. Anak2 kita jangan dimanjakan. Bukanlah mencintai seoaran ganak, manakala anak dinberikan seluruh fasilitas keinginanny. Wa ja’ala baynakum mawaddah wa rahmah. Jadi utk memperoleh kelaurga sakinah, kata kunciny ada dua.          Mawaddah = cinta yg kritis rahmat = cinta yg total. Cinta mawaddah = cintanya seoanrg suami. Bukanlah cinta kpd anak, jajannya 500 ribu sehari. Klo memnuhi itu, bukan cinta. Dan tidk memenuhi itu, bkn berarti tdk mencintai. Itu cinta suami.  kritis. Tp klo rahmah, pokoknya secara total diberikan semuanya. Biasny cinta seoarng istri coba lihat ibu kepada bayinya. Brp kali dia bangun semalaman. Brp kali bangun menyusui, apalagi klo anaknya sakit. Sampai keluar kata2, ya Allah berikanlah penyakit itu kepadaku anakkku blm sanggup utk merasakan. Jadi mawaddah dan rahmah akan melahirkan sakinah, kesemimbangan anatara emosi dan intelektualitas .  jadi arif dan alim akan melahirkan oran gyg muttaqiin. Takwa itu tdk bisa disebut muttaqin klo tidak arif. Sekali lagi, arif itu penitng, di bangsa kita mungkin banyk orang pintar, tp tidak banyak yg arif. Banyak politis, tp bukan negarawan       

Ya Allah anugerahkanlah kepada kami kepintaran yg berbanding lurus dgn kearifan pada diri kami dan anak2 kami. Lkami sangat sadar apa akbitnya pengetauan tanpa kearifan, maka itu selamaktnlah kami semua dgn anugerahkan kearifan dlm lubuk hati kami sbg modal. Jadikanlah ilmu itu sbg penuntun surgamu ya Allah.

Mski para Nabi itu ma'shum, namun mrk selalu merasa sbagai org yg bnyak dosa. Lihat saja Nabi Adam as dgn doanya; Rabbana zhalamna anfusana... Nabi Yunus as dgn doanya; Subhanaka inni kuntu minazhalimin.. Beda dgn kita. Udah mesum, msih saja selalu mrasa sprti tdk bnyak dosa. Merasa paling mulia. Pdhal satu hal yg mmbuat kt sprti org paling mulia, karena Alloh menutupi aib2 kita. "Astaghfiruka ya Ghaffar ya Sattar"

Alqur,an sebagai 'furqan', artinya pembeda. Org yg bnyak mmbaca alQur,an dn mrasuk ke dalam jiwanya dia akan memiliki keimanan yg tajam dn sanggup mmbedakan. Mana sandalnya mana bukan sandalnya. Mana motornya mana bukan motornya. Mana isterinya mana bukan isterinya...Allahu Akbar "In tattaqulloha yaj'al lakum furqonaa (al Anfal 29). Met rehat, org2 baik...

<Ramadhan awwaluhu rahmah, wa wasathuhu maghfirah, wa akhiruhu 'itqun minan nar >
Ramadhan berisi rahmat Tuhan, ampunan Tuhan, dn pembebasan Tuhan. Kalau tidak krn rahmatNya trlalu sedikit ibadah yg bisa kt andalkan. Kalau tdk karena ampunanNya terlau banyak dosa yg kt lakukan. Kalau tidak krn pembebasanNya terlalu lemah posisi kt di pengadilan Tuhan.Tksih, Ramadhan..
"Balagha rasuluhun nabiyyul habibul kareem..."
 

No comments:

Post a Comment