Saturday, June 22, 2013

tafsir 8-10 11 -12

Ayat 8-10 surah al-Baqarah
·  وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ
·  يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ
·  فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
·
Di antara manusia | ada yg mengatakan |  'Kami telah beriman kepada Allah | dan Hari kemudian," | padahal mereka itu sesungghnya bukan orang-orang mukmin. | Mereka bemaksud dengan sungguh-sunggh menipu Allah | dan orang-orang beriman |  padahal mereka hanya nenipu diri mereka sendiri | sedang mereka tidak sadar | Dalam hati mereka ada pernyakit |  maka Allah menambah (penyebab) penyakit | dan bagi mereka siksa yg pedih |  disebabkan mereka berdusta."


Ayat Sebelumnya, membahas tentang orang bertakwa dan orang kafir. Sedangkan ini, ayat 8-10 ini membahas tentang selain dua kelompok yg blm disebut sebelum ayat ini, yakni bukan orang bertakwa bukan juga orang kafir. Siapa dia, yaitu orang-orang munafik.

Kemarin kita sdh bahas kafir nifaq, Secara lahiriah orang munafik tampak beriman, tetapi batinnya mengingkari Allah SWT. Orang munafik, orang kafir yang memakai "baju" mukmin. Mereka memiliki watak dasar “khianat, ingkar janji, dusta, egois, dan ria. Menurut Tabataba'i, munafik dalam istilah Al-Qur'an adalah menampakkan iman dan menyembunyikan kekafiran
يَا أَيُّهَا الرَّ‌سُولُ لَا يَحْزُنكَ الَّذِينَ يُسَارِ‌عُونَ فِي الْكُفْرِ‌ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِن قُلُوبُهُمْ ۛ   

41. Hri Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:"Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman;  

 Perbuatan orang munafik sll penuh pamrih pribadi, jauh dari keikhlasan, dan selalu mengharapkan sanjungan dari orang lain. Orang-orang munafik ini tidak akan pernah mau berkorban unhrk kepentingan orang lain.  


Ada tiga belas ayat dalam kelompok ayat-ayat pertama surah al-Baqarah ini yg membicarakan orang-orang munafik. Jika mengacu dari segi nuzulnya /masa turunnya, ayat-ayat tersebut melukiskan sebagian anggota masyarkat Madinah 14-15 abad yg lalu,. Tetapi, pada hakikatnya, ayat-ayat tersebut melukiskan keadaan sebagaian anggota masyarakat umat manusia, kapan, dan di mana pun saja.
Uraian dan penjelasan panjang lebar diperlukan karena sebagian sifat-sifat mereka tidak muncul ke permukaan.  mereka ini sangat pintar dan lihai menyembunyikan atau mengemasnya dalam kemasan indah. Mereka itulah yg dimaksud dengan firman-Nya, wa minannnas “di antara manusia.”
Allah swt. memulai uraian-Nya tentang gambaran orang-orang munafik dengan berfirman: Diantara mereka |  ada-yg mengatakan | 'Kami telah beiman kepada Allah | dengan iman yg benar | dan kami juga telah percaya dengan keniscayaan hari Kemudian" | ini untuk mengelabui orang-orang mukmin.

Pernyataan mereka itu , yaitu beriman kpd Allah dan hari kemudian-- dibantah dengan menggunakan redaksi yg menunjuk pada ketidakmantapan iman mereka. Memang, bisa saja ada sedikit keimanan yg bersemai dan ada dalam kalbu mereka, tetapi itu bukanlah iman yg mantap yg menjadikan mereka wajar dinamai seorang mukmin .kata Allah – wa maa hum bimu’miniin-- Padahal mereka itu sesungguhnya bukanlah orang-orang mukmin  yg mantap imannya. Sebagian masih terombang ambing dan sebagian lagi hanya berpura-pura.

Kita tentu tahu bahwa ada perbedaan antara orang "yg Beriman " dan yg "mukmin" dari segi kemantapan dan kedalamannya.  kurang lebih sama dengan perbedaan antara "yg menyanyi" dan
penyanyi". Penyanyi adalah seorang yg telah berulang-ulang menyanyi, bahkan telah menjadi profesi yg ditekuninya, berbeda dengan "yg menyanyi", yg bisa jadi hanya mendendangkan lagu sekali atau dua kali, bahkan  bisa saja tidak bisa di depan umum.

Mungkin ada Pertanyaan yg mengatakan, "Mengapa mereka—orang-orang munafik ini mengatakan demikian?" Maka itu dijawab di ayat ini. bahwa , yukhaadi’uunallah walladziina amaanu’ Mereka bermaksud dengan sunguh-sungguh berupaya menipu Allah dan Orang-orang beriman yg memiliki keimanan tulus. Atau, ayat ini merupakan penjelasan tentang sifat mereka yg lain'. Jadi mereka ingin menipu Allah dan orang-orang beriman
Membohongi, mengelabui, membuat sulit orang, tampaknya menolong, oadahal merugikan

Yg dimaksud “Penipuan” adalah mengelabui pihak lain untuk menjerumuskannya da1am kesulitan tanpa disadari oleh yg dijermusukannya, atau menampakkan pertolongan padahal di balik itu terdapat kerugian bagi pihak yng lain. Penipuan mereka ini mereka lakukan dengan penuh kesungguhan sebagaimana dipahami dart kata (يخادعون)  bukan ( يخدعون)  

Orang-orang munafik ketka itu bergaul dengan orang-orang mukmin dengan tujuan mendengar rahasia kaum muslimin untuk kemudian membocorkanya kepada lawan, atau bergaul dengan tujuan menutup-nutupi kemunafikan mereka sehingga mereka terhindar dari sanksi yg dapat dijatuhkan kepada mereka.

Allah menyatakan, Mereka sungguh keliru, padahal sebenarnya mereka ---wa maa yakhda’uun--tidak menipu kecuali hanya menipu diri mereka sendiri, walaupun kata Allah,– wa maa yas’uruun--sedang mereka tidak sadar bahwa mereka merugikan diri mereka sendiri, atau bahkan mereka tidak memiliki sedikit kesadaran pun, menyangkut bahaya yg dapat menimpa mereka maupun kesadaran menyangkut yg bermanfaat atau berakibat buruk buat mereka. walhasil, mereka bukan manusia yg memiliki kesadaran. Kata Allah– wa maa yasy’urun


Mengapa demikian, ini disebabkan karena dalam hati org2 munfaik  ada penyakit, -- fii quluubihim maradh--seperti membenci Nabi dan iri terhadap beliau, kesesatan, kebodohan, dan lain-lain yg menyebabkan ketidakseimbangan mental, bahkan kematian ruhani. Maka Allah menambah penyebab peryakit itu melalui upaya dan maksud buruk mereka,  atau menambahnya dengan menurunkan lebih banyak ayat-ayat al- Qur'an yg menjadi petunjuk sekaligus menunjukkan kesesatan mereka sehingga dengan demikian bertambahlah kedengkian dan ketidakseimbangan mental mereka. Itu semua menjadikan mereka sangat pantas mendapat siksa yg menyakitkan, kata Allah—walahum ‘adzaabun aliimun bimaa kaaanu yakdzibuun--Dan bagi mereka siksa yg  pedih, disebabkan karena mereka berdusta.

Orang yg tdak mengerti, berkata bahwa redaksi ayat di atas yg menyatakan 'Di antara manusia ada yg mengatakan"   -- wa minnan naas--adalah redaksi yg mubazzir karena dari informasinya akan terlihat dengan jelas bahwa pengucapnya adalah manusia.
(mengecam, menelanjangi, mengkritik, mencaci)
Dugaan mereka sangat keliru.  Redaksi ini mengandung pelajaran yg sangat berharga. Kita semua tahu bahwa ayat ini berbicara tentang orang-orang munafik. Ayat ini rnengandung kecaman, kritik yg pedas bahkan boleh jadi dinilai sebagai cacian terhadap mereka. Nah, agar mereka tidak merasa di"telanjangi" dan dipermalukan di depan umum – apalagi surah ini adalah salah satu surah pertama yg turun di Madinah, di mana kemunafikan baru dikenal - maka menggunakan redaksi tersebut dalam situasi semacam itu masih sangat perlu. Ayat ini merupakan sindiran, bukan tudingan kepada orag tertentu dengan harapan, kiranya yg melakukan keburukan itu dapat malu, atau sadar sehingga memperbaiki diri. Di sisi lain, didahulukannya kata-kata itu, juga bertujuan untuk menarik perhatian pendengar tentang apa yg akan disamparkan menyangkut mereka .

Ayat di atas hanya menyebut dua dari sekian banyak kepercayaan yg wajib, yaitu –aaamanna billahi wa bilyaumil akhir--Kami telah beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Ini untuk memperingkas dan merangkum segala sesuatu, karena kepercayaan kepada Allah swt. merupakan sumber yg atas dasarnya lahir kepercayaan kepada utusan-Nya. Di sisi lain, karena imaan –kepercayaan- merupakan landasan bagi drterimanya setiap amal. Adapun keimanan pada hari  akhir, maka ini merupakan pendorong untuk melakukan amal-amal kebajikan.

Boleh jadi juga hanya kedua hal itu yg disebut karena memang hanya kedua hal itu yg selalu diucapkan oleh orang-orang munafik. Agaknya demikian, karena di samping mereka ingin menampakkan keislaman di hadapan kaum muslimrn juga dalam saat yg sama ingin memelihara hubungan baik dengan kaum musyrik dan orang-orang Yahudi dengan menyatakan bahwa kami mengakui kedua hal itu tetapi kami  tidak mengakui kenabian Muhammmad saw. Demikian, terlihat jelas ketelitian al-Qur'an dlm menyampaikan atau rnenggarisbawahi ucapan mereka.

Kata يخادعون terambil dari akar kata  khada'a, yg merupakan ucapan atau perbuatan yg disertai dengan pengelabuan seakan-akan pelakunya bermaksud baik padahal sebaliknya. Sang pelaku melakukan itu terkadang untuk mengurungkan niat seseorang untuk melakukan sesuatu, atau mengalihkannya sehingga ia berbuat hal lain yg lebih menguntungkan pelaku.
Perlakuan semacam ini, tipu daya semacam ini tercela dalam keadaan apapun, kecuali pada peperangan. Dalam konteks ini Nabi bersabda الحرب خدعة, "Peperangan  adalah tipu daya" atau "peperangan adalah kegiatan yg dilakukan oleh yg pandai bertipu daya."
Adapun menampakkan diri sebagai tetipu kepada yg menipu, maka - selama sikap ini tidak merugikan - ia terpuji atau minimal sikap ini dapat ditoleransi.

Yukhadiuunallah,..Bahwa orang-orang munafik menipu Allah, ini tentu hal yg mustahil. Karena itu ada yg memahaminya dalam arti bahwa mereka menipu kaum mukminin. penipuan mereka kepada kaum mukminn disebabkan-- karena kaum mukminin percaya kepada agama Allah dan --penipuan mrk didorong oleh pengingkarun kaum munafikin terhadap tuntunan Allah, maka penipuan itu bagaikan tertuju kepada Allah swt.

Dapat juga dikatakan bahwa yg dimaksud menipu Allah adalh menipu rasul-Nya. Itupun bukan dalam arti penipuan yg telah terjadi dan Rasul telah terjerumus dalam penipuan itu, tetapi dalam arti mereka bermaksud menipu, tetapi tujuan mereka tidak tercapai, karena yg terjadi adalah justru mereka yg tertipu.

Yg dimaksud dengan يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا  "Allah dan kaum mukmrmn menipu mereka" bukan berarti penipuan dibalas dengan dengan penipuan, karena menipu dibalas menipu adalah sesuatu yg buruk. Tetapi maksudnya adalah kaum mukminin berpura-pura tidak mengetahui ulah orang2 munafik ini dan tetap memperlakukan mereka seperti apayg mereka tampakkan di permukaan, padahal orang2 mukmin sebenarnya mengetahui gerak-gerik dan tipu daya mereka. Sikap berpura-pura itulah yg dinamai penipuan ketika dinisbahkan kepada kaum mukminin.

Apa yg dilakukan oleh Rasul saw dan kaum mukmimn itu mendapat restu Allah swt., sehingga dengan demikian, restu itu dinilai juga sebagai tipu Allah terhadap mereka. Di tempat lain dinyatakan bahwa mereka menipu Allah, padahal Dia yg menipu mereka (QS. an-Nisa [4]: 142).
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُواْ إِلَى الصَّلاةِ قَامُواْ كُسَالَى يُرَاؤُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلاَّ قَلِيلاً

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka [364]. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya [365] (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali [366].

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ
Firman-Nya:  maa yasy’uruun—yg artinya tidak sadar terambil dari kata Syaura yg sering diterjemahkan merasa. Rasa adalah salah satu alat pengetahuan, dan karena itu, kata tersebut biasa juga diartikan mengetahui, hanya saja pengetahuan dimaksud menyangkut hal-hal yg teliti, tersembunyi lagi halus. Itu sebabnya penyair dtnamai شاعر ,  karena dia mengetahui makna-makna yg tersembunyi dan menampilkan sajak sajaknya dengan kalimat-kahmat indah tersusun rapi dan menyentuh rasa.

  Ada juga yg berpendapat bahwa kata tersebut terambil dari kata (شعار)  yaitu baju yg dtpakai seseorang. Dari kata tersebut lahir kata yang menunjuk kepada yg dilahirkan oleh indra perasa.

Thihr Ibn 'Asyur – attahriir wa tanwiir-- tidak memahami.kata  لا يشعرون bukan dalam arti tidak memiliki rasa, tetapi dalam arti  tidak memiliki kecerdasan berpikir, atau bahwa mereka adalah orang-orang yg dungu. Arti bahwa mereka adl orang2 yg dungu  lebih buruk daripada menilai mereka tidak memiliki rasa. karena menurut Ibn 'Asyur, mencela dengan sesuatu yg biasa terjadi lebih mantap daripada mencela menyangkut satu sifat yg udak mungkin terjadi. Adanya "rasa" buat mereka diakui oleh semua orang, sehingga tidak mengakui mereka memiliki rasa, atau menafikan mereka tidak memiliki rasa, tidak membuat mereka cemas,..santai, .katena menafikan hal itu dari seorang manusia merupakan suatu yg  hampir mustahil. Tetapi menafikan kecerdasan meteka atau dengan kata lain menilai meteka dungu justru sangat menyakitkan mereka.
Pendapat Ibn 'Asyur di atas, dapat dibenarkan bila yg dimaksud dengan "rasa" adalah produk dari indra perasa. Ini memang hampir-hampir dikatakan mustahil bagi manusia.

Tetapi, ada mufassir berpendapat, bukan produk indra perasa itu yg dimaksud dengan perasaan yg dinafikan di sini. Yg dinafikan di sini adalah perasaan yg merupakan sumber iman dan budi pekerti. Ia adalah kepekaan terhadap lingkungan. Bisa saja seseorang memiliki indra perasa yg sangat peka tetapi ia tidak memiliki sedikit perasaanpun, dan ketika itu jangan harapkan lahir darinya akhlak baik terhadap Allah, manusia, maupun lingkungannya.

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
Firman-Nya fi qulilbihim maradhun --- dalam hati mereka ada penyakit, yakni gangguan yg menjadikan sikap dan tndakan mereka tidak wajar. Ini menjadikan mereka memiliki akhlak yg sangat buruk.

Penyakit itulah lahir akibat kemunafikan mereka. Firman-Nya:  fazaadahumullahu maradhaa -- Allah menambah penlakit, dipahami oleh Thihir Ibn 'Asyur dalam arti bahwa sifat-sifat buruk yg melekatpada diri mereka itu dari hari ke hari bertambah, karena demikian itulah sunnatullah terhadap akhlak; ia bertambah sedikit demi sedikit tanpa disadari oleh pelakunya. Bahwa kemunafikan menambah buruk sifat-sifat meteka, karena seorang yg memilikinya selalu berusaha menutupi sifat-sifat buruk itu, sehingga ia tidak pernah mendapat kritik atau nasihat. Ini tidak ubahnya dengan Seorang sakit yg menutup-nutupi penyakitnya, enggan ke dokter sehingga penyakitnya bertambah dari saat ke saat.

Ayat di atas mengulangi kata maradb, -- dan keduanya dalam bentuk nakirah (indefinite). Ada kaidah bahasa yg menyatakan bahwa apabila dalam satu susunan kata terulang kata yg sama dalam bentuk nakirah, maka kandungan makna kata pettama berbeda dengan kandungan katayangkedua. Ini berarti penyakit yg tadinya didetita oleh orang-orang munafik bertambah  akibat kemunafikan mereka sehingga menimbulkan komplikasi dan penyakitpenyakit baru.
Satu penyakit melahirkan penyakit yg Lain. Penyelewengan bermula kecil, kemudian sedikiit derm sedikit membesar dan membesar. Ini adalah sunnatullAh yakni ketetapan Allah yg berlaku di setiap saat dan dalam segala bidang kehidupan, termasuk dalam bidang rasa, tingkah laku, sampai puncaknya, yg dalam konteks uraian ayat ini adalah siksa yg menyakitkan disebabkan karena mereka berbohong.
Seperti Anda baca, penyakit tersebut lahir akibat ulah yg bersangkutan sendri bukan oleh Allah. Namun ayat ini menyatakan bahwa Allah yg menambahnya. Ini karena seperti dikemukakan di atas, Allah yg menetapkan sunatullah, yakni hukum-hukum sebab dan akibat atau ketetapan-ketetapan yg betlaku umum, sehingga bagaikan Dia yg rnenambahnya. Hal itu sekaligus untuk mengisyaratkan murka Allah kepada kaum munafikin atas aneka penipuan mereka.
Sementara ulama ada yg memahami kata Maka Allah nenambah peryakit buat mereka dalam arti doa “semoga Allah menambahnya. Pendapat ini kurang tepat bukan saja karena adanya kata maka, tetapi juga karena mendoakan agar keburukan seseorang bertambah, tidaklah merupakan sesuatu yg terpuji bahkan bertentangan dengan sikap Rasul saw. yg seringkali berdoa semoga Allah memberi petunjuk kepada umatnya yg belum beriman.

AYAT 11-12
  وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ قَالُواْ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
·  أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِن لاَّ يَشْعُرُونَ
Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, rnereka menjawab: "Sesunguhnya hanya kami orang-orang mushlih." Sesungguhnya, mereka itulah orangorang yg  benar-benar perusak, tapi nereka tidak menyadari.”

Keburukan mereka tidak terbatas pada kebohongan dan penipuan, tetapi ada yg lain, yaitu kepicikan pandangan dan pengakuan yg bukan pada tempatnya sehingga bila dikatakan yakni ditegur kepada mereka: janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab, sesungguhnya  kami - bukan selain kami -orang-,orang mushlih, yakni yg selalu melakukan perbaikan.
Ucapan mereka dibantah, Tidak! Sesungguhnya mereka itulah orang-orang yg benar-benar perusak, tetapi mereka tidak menyadari. Pengrusakan di bumi adalah aktivrtas yg mengakibatkan sesuatu yg memenuhi nilai-nilainya dan atau berfungsi dengan baik setta bermanfaat menjadi kehilangan sebagian atau seluruh nilainya sehingga tidak atau berkurang fungsi dan manfaatnya.
Seorang dituntut, paling tdak, menjadi saleh, yakni memelihara nilai nilai sesuatu sehingga kondisinya tetap tdak berubah sebagaimana adanya, dan dengan demikian sesuatu itu tetap berfungsi dengan baik dan bermanfaat
Seorang mushlih adalah siapa yg menemukan sesuatu yg hilang atau berkurangn Taatnya. Tidak atau kurang berfungsi dan bermanfaat, lalu melakukan aktivitas (memperbaiki) sehingg yg kurang atau hilang itu dapat menyatu kembali dengan sesuatu itu. Yg tebih baik dari itu adalab siapa yang menemukan sesuatu yg telah bermanfaat dan berfu ngsi dengan baik, lalu ia melakukan aktivitas yg melahtkan nilai tambah bagi sesuatu itu, sehingga kualitas dan manfaatnya lebih tinggi dari semula.

Orang-orang munafik menduga diri mereka mencapai peringkat ini.
Allah mengingatkan semua pihak yg bisa jadi teperdaya oleh kepandaian mereka, sesungguhnya, mereka itulah orang-orang yang benar-benar perusak, tetapi mereka tidak mnyadari keburukan mereka, atau tidak menyadai bahwa rahasia mereka telah diketahui oleh Nabi dan umat Islam. Mereka
tidak menyadari keburukan mereka sendiri karena setan telah memperdaya mereka dengan memperindah sesuatu yg buruk di mata mereka. Ayat di atas meggambarkan bahwa mereka adalahorang-orang benarbenar perusak.
Pengrusakan tersebut tentu saja banyak dan berulang-ulang karena kalau tidak mereka tentu tidak dinamai perusak, satu bentuk kata  yg menunjukkan kemantapan makna yg dikandung pada si pelaku,
betbeda jika bentuk kata yangdigunakan adalah bentuk kata kerja. Bukankah berbeda antara si A penyanyi dan Si A menyanyi. Pengrusakan yg mereka lakukan itu tercermin antara lain adalah terhadap diri mereka yg enggan berobat sehingga semakin parah penyakrt yg mereka deita. Selanjutnya pengrusakan kepada keluarga dan anak-anak mereka, karena keburukan tersebut mereka tularkan melalui peneladanan sifat-sifatg buruk itu. Lebih lanjut pengrusakan kepa da masyarakat dengan ulah mereka menghalangi orang lain melakukan kebajikan, dengan menyebarkan isu-isu negatif, menanamkan kebencian dan perpecahan dalam masyarakat.

Itu sebabnya nasihat yg ditujukan kepada mereka menyatakan, jangan membuat  kerusakan di bumi yakni secara jelas menyebut kata di bumi, bukan sekadar melarang melakukan pengrusakan. Yakni dengan penyebutan kata tetsebut tercermin betapa luas dampak keburukan itu, sehinggakalau dibiarkan akan menyebar ke seluruh persada bumi. Ia tdak hanya akan menyentuh manusia, tp juga semua Lngkungan hidup. Apa yg diisyaratkan oleh al-Qur'An semakin terbukti kebenaranya deWasa ini, di saat alat-alat komunikasi sudah canggih dan dapat dijangkau dengan mudah oleh siapa pun.

Ayat di atas membantah mereka, dengan menggunakan susunan kata yg mengandung makna pengkhususan yakni yg perusak tdak lain kcuali mereka. Redaksi ini dipilih sebagai jawaban atas ucapan mereka  yg juga menyatakan bahwa hanya kami -bukan selain kami- yg mushlihinn
- yakni pelaku-pelaku perbaikan. Memang bisa saja jawaban terhadap mereka
brrpa pengkhususan itu, tetapi ia ditegaskan karena sebelum ini telah dinytatakan bahwa mereka tidak lagi memiiikr dorongan unruk memperbaiki diri dan bahwa sifat mereka dari hari ke hari bertambah buluk sehingga siapa yg  sifat dan keadaannya demikian, tidak lagi dapat diharapkan lahir darinnya suatu kebaikan.

Setelah menyampaikan nahr mungkat, yakni melarang sesuatu yang
5uruk, ayat di atas melanjutkan uaraiannya dengan arnr maktuf, atttu
remedntahkan yg baik yaitu, penntah untuk beriman. Adalah bal yang
sangat wajar mendahulukan nahi mungkar, karena menyingkirkan
kebutukan lebih utama daripada menghiasi diri dengan keindahan. Tetapi
srkap mereka tidak berubah sebagaimana terbaca pada ayat berikut.
Firman-Nya: (ts jy.L_\) layy'anin serupa maknanya dengan kata
'.-ang sama pada ayat9.

1 comment:

  1. آيات مباركة تذكرنا بأهمية صدق الإيمان والابتعاد عن النفاق، حيث لا يخدع الكاذبون إلا أنفسهم وهم غافلون. تذكير قوي بأن الله يعلم خفايا القلوب، كما تعلّمنا سورة الانفطار مكتوبة كيف أن الله هو الحكم العادل وأن لكل نفس جزاء أعمالها. فلنحرص على نقاء قلوبنا وثبات إيماننا.

    ReplyDelete