Ayat 8-10 surah al-Baqarah
·
وَمِنَ
النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم
بِمُؤْمِنِينَ
· يُخَادِعُونَ
اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا
يَشْعُرُونَ
· فِي
قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا
كَانُوا يَكْذِبُونَ
·
Di antara
manusia | ada yg mengatakan | 'Kami
telah beriman kepada Allah | dan Hari kemudian," | padahal mereka itu
sesungghnya bukan orang-orang mukmin. | Mereka bemaksud dengan sungguh-sunggh
menipu Allah | dan orang-orang beriman | padahal mereka hanya nenipu diri mereka
sendiri | sedang mereka tidak sadar | Dalam hati mereka ada pernyakit | maka Allah menambah (penyebab) penyakit | dan
bagi mereka siksa yg pedih | disebabkan
mereka berdusta."
Ayat Sebelumnya, membahas tentang orang bertakwa dan orang kafir. Sedangkan
ini, ayat 8-10 ini membahas tentang selain dua kelompok yg blm disebut sebelum ayat
ini, yakni bukan orang bertakwa bukan juga orang kafir. Siapa dia, yaitu orang-orang
munafik.
Kemarin kita sdh bahas kafir nifaq, Secara lahiriah orang munafik tampak
beriman, tetapi batinnya mengingkari Allah SWT. Orang munafik, orang kafir
yang memakai "baju"
mukmin. Mereka memiliki watak dasar “khianat, ingkar janji, dusta, egois, dan ria.
Menurut Tabataba'i, munafik dalam istilah Al-Qur'an adalah menampakkan iman dan
menyembunyikan kekafiran
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا
يَحْزُنكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آمَنَّا
بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِن قُلُوبُهُمْ ۛ
41. Hri Rasul, janganlah
hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan)
kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut
mereka:"Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman;
(QS. سورة
المائدة 5:41) .
Perbuatan orang munafik sll penuh pamrih pribadi, jauh dari keikhlasan, dan
selalu mengharapkan
sanjungan dari orang lain. Orang-orang munafik ini tidak akan pernah mau berkorban
unhrk kepentingan orang lain.
Ada tiga belas ayat dalam kelompok ayat-ayat pertama surah al-Baqarah ini yg membicarakan
orang-orang munafik. Jika mengacu dari segi nuzulnya /masa turunnya, ayat-ayat
tersebut melukiskan sebagian anggota masyarkat Madinah 14-15 abad yg lalu,. Tetapi,
pada hakikatnya, ayat-ayat tersebut
melukiskan keadaan sebagaian anggota masyarakat umat manusia, kapan, dan di
mana pun saja.
Uraian dan penjelasan panjang lebar diperlukan karena
sebagian sifat-sifat mereka tidak muncul ke permukaan. mereka ini sangat pintar dan lihai menyembunyikan atau
mengemasnya dalam kemasan
indah. Mereka itulah yg dimaksud dengan firman-Nya, wa minannnas “di
antara manusia.”
Allah swt.
memulai uraian-Nya tentang gambaran orang-orang munafik dengan berfirman: Diantara
mereka | ada-yg mengatakan | 'Kami telah
beiman kepada Allah | dengan iman yg benar | dan kami juga telah percaya dengan
keniscayaan hari Kemudian" | ini untuk mengelabui orang-orang mukmin.
Pernyataan mereka itu , yaitu beriman kpd Allah dan hari kemudian-- dibantah
dengan menggunakan redaksi yg menunjuk pada ketidakmantapan iman mereka.
Memang, bisa saja
ada sedikit keimanan yg
bersemai dan ada dalam kalbu mereka, tetapi itu bukanlah iman yg mantap yg menjadikan mereka
wajar dinamai seorang mukmin .kata Allah – wa maa hum bimu’miniin-- Padahal mereka
itu sesungguhnya bukanlah orang-orang mukmin
yg mantap imannya. Sebagian masih terombang ambing dan sebagian lagi hanya berpura-pura.
Kita tentu tahu bahwa ada perbedaan
antara orang "yg Beriman " dan yg "mukmin"
dari segi kemantapan dan kedalamannya. kurang lebih sama dengan perbedaan antara "yg
menyanyi" dan
penyanyi".
Penyanyi adalah seorang yg telah berulang-ulang menyanyi, bahkan telah menjadi profesi yg ditekuninya,
berbeda dengan "yg menyanyi", yg bisa jadi hanya mendendangkan lagu
sekali atau dua kali, bahkan bisa saja
tidak bisa di depan umum.
Mungkin ada Pertanyaan yg mengatakan, "Mengapa mereka—orang-orang munafik ini mengatakan demikian?"
Maka itu dijawab di ayat ini. bahwa , yukhaadi’uunallah walladziina amaanu’
Mereka bermaksud dengan sunguh-sungguh berupaya menipu Allah dan
Orang-orang beriman yg memiliki keimanan tulus. Atau,
ayat ini merupakan penjelasan tentang sifat mereka yg lain'. Jadi mereka
ingin menipu Allah dan orang-orang beriman
Membohongi, mengelabui, membuat sulit orang, tampaknya
menolong, oadahal merugikan
Yg dimaksud
“Penipuan” adalah mengelabui
pihak lain untuk menjerumuskannya
da1am kesulitan tanpa disadari oleh yg dijermusukannya, atau menampakkan pertolongan padahal
di balik itu terdapat kerugian
bagi pihak yng lain. Penipuan mereka ini mereka lakukan dengan penuh kesungguhan
sebagaimana dipahami dart kata (يخادعون) bukan
( يخدعون)
Orang-orang
munafik ketka itu bergaul
dengan orang-orang mukmin dengan tujuan mendengar rahasia kaum muslimin
untuk kemudian membocorkanya kepada lawan, atau bergaul dengan tujuan
menutup-nutupi kemunafikan mereka sehingga mereka terhindar dari sanksi yg
dapat dijatuhkan kepada mereka.
Allah menyatakan, Mereka sungguh
keliru, padahal sebenarnya mereka ---wa maa yakhda’uun--tidak
menipu kecuali hanya menipu diri mereka sendiri, walaupun kata Allah,– wa
maa yas’uruun--sedang mereka
tidak sadar bahwa mereka merugikan diri mereka sendiri, atau bahkan
mereka tidak memiliki sedikit kesadaran pun, menyangkut
bahaya yg dapat menimpa mereka maupun kesadaran menyangkut yg bermanfaat atau
berakibat buruk buat mereka. walhasil, mereka bukan manusia yg memiliki
kesadaran. Kata Allah– wa maa yasy’urun
Mengapa demikian, ini disebabkan
karena dalam hati org2 munfaik ada penyakit, -- fii quluubihim maradh--seperti
membenci Nabi dan iri terhadap beliau,
kesesatan, kebodohan, dan lain-lain yg menyebabkan ketidakseimbangan mental,
bahkan kematian ruhani. Maka Allah menambah penyebab peryakit itu melalui upaya
dan maksud buruk mereka, atau
menambahnya dengan menurunkan lebih banyak ayat-ayat al- Qur'an yg menjadi
petunjuk sekaligus menunjukkan kesesatan mereka sehingga dengan demikian bertambahlah
kedengkian dan ketidakseimbangan mental mereka. Itu semua menjadikan
mereka sangat pantas mendapat siksa yg menyakitkan, kata Allah—walahum ‘adzaabun aliimun bimaa
kaaanu yakdzibuun--Dan bagi mereka siksa yg pedih, disebabkan karena mereka berdusta.
Orang yg tdak mengerti, berkata bahwa redaksi ayat di atas yg menyatakan 'Di antara
manusia ada yg mengatakan" -- wa
minnan naas--adalah redaksi
yg mubazzir karena dari informasinya akan terlihat dengan jelas bahwa
pengucapnya adalah manusia.
(mengecam,
menelanjangi, mengkritik, mencaci)
Dugaan mereka sangat keliru. Redaksi ini
mengandung pelajaran yg sangat berharga. Kita semua tahu bahwa ayat ini berbicara tentang orang-orang munafik. Ayat ini rnengandung kecaman, kritik yg pedas bahkan
boleh jadi dinilai sebagai cacian terhadap mereka. Nah, agar mereka tidak merasa di"telanjangi"
dan dipermalukan di depan umum – apalagi surah ini adalah salah satu
surah pertama yg turun di Madinah, di mana kemunafikan baru dikenal -
maka menggunakan redaksi tersebut dalam situasi semacam itu masih sangat perlu.
Ayat ini merupakan sindiran, bukan tudingan kepada orag tertentu
dengan harapan, kiranya yg melakukan keburukan itu dapat malu, atau sadar sehingga memperbaiki
diri. Di
sisi lain, didahulukannya kata-kata itu, juga bertujuan untuk menarik perhatian pendengar tentang apa yg akan disamparkan menyangkut mereka .
Ayat di atas
hanya menyebut dua dari
sekian banyak kepercayaan yg wajib, yaitu –aaamanna billahi wa bilyaumil akhir--Kami telah beriman
kepada Allah dan hari Kemudian. Ini untuk memperingkas dan merangkum segala sesuatu, karena kepercayaan kepada Allah swt. merupakan sumber yg atas dasarnya lahir kepercayaan kepada utusan-Nya. Di sisi lain, karena imaan –kepercayaan- merupakan landasan bagi drterimanya setiap amal. Adapun keimanan pada hari akhir, maka ini merupakan pendorong
untuk melakukan amal-amal kebajikan.
Boleh jadi juga hanya kedua hal itu yg disebut karena memang hanya kedua hal itu yg selalu diucapkan oleh orang-orang munafik. Agaknya
demikian, karena di samping mereka ingin menampakkan keislaman di hadapan kaum muslimrn juga dalam saat yg
sama ingin memelihara hubungan baik dengan kaum musyrik dan orang-orang Yahudi dengan menyatakan bahwa kami mengakui kedua hal itu tetapi kami tidak mengakui kenabian Muhammmad saw. Demikian,
terlihat jelas ketelitian
al-Qur'an dlm menyampaikan atau
rnenggarisbawahi ucapan mereka.
Kata يخادعون terambil dari akar kata khada'a, yg merupakan
ucapan atau perbuatan yg disertai
dengan pengelabuan seakan-akan pelakunya bermaksud baik padahal sebaliknya. Sang
pelaku melakukan itu terkadang untuk mengurungkan niat
seseorang untuk melakukan sesuatu, atau mengalihkannya sehingga ia berbuat hal
lain yg lebih menguntungkan pelaku.
Perlakuan semacam ini, tipu daya semacam ini tercela dalam
keadaan apapun, kecuali pada peperangan. Dalam konteks
ini Nabi bersabda الحرب خدعة, "Peperangan adalah tipu daya" atau "peperangan adalah
kegiatan yg dilakukan oleh yg pandai bertipu daya."
Adapun menampakkan
diri sebagai tetipu kepada yg menipu, maka - selama sikap ini tidak merugikan
- ia terpuji atau minimal sikap ini dapat ditoleransi.
Yukhadiuunallah,..Bahwa
orang-orang munafik menipu Allah, ini tentu hal yg mustahil.
Karena itu ada yg memahaminya dalam arti bahwa mereka menipu kaum mukminin. penipuan mereka
kepada kaum mukminn disebabkan-- karena kaum mukminin percaya kepada agama Allah dan --penipuan
mrk didorong oleh pengingkarun kaum munafikin
terhadap tuntunan Allah, maka penipuan itu bagaikan tertuju kepada
Allah swt.
Dapat juga dikatakan
bahwa yg dimaksud menipu Allah adalh menipu rasul-Nya. Itupun bukan dalam arti penipuan yg telah terjadi
dan Rasul telah terjerumus dalam penipuan itu, tetapi dalam arti mereka bermaksud
menipu, tetapi tujuan mereka tidak tercapai, karena yg terjadi adalah justru mereka yg tertipu.
Yg dimaksud dengan يُخَادِعُونَ
اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا "Allah dan kaum mukmrmn menipu
mereka" bukan berarti penipuan dibalas dengan dengan penipuan, karena menipu dibalas
menipu adalah sesuatu yg buruk.
Tetapi maksudnya adalah kaum mukminin berpura-pura tidak mengetahui ulah orang2 munafik ini dan tetap
memperlakukan mereka seperti apayg mereka tampakkan di permukaan,
padahal orang2 mukmin sebenarnya mengetahui gerak-gerik dan tipu daya mereka. Sikap berpura-pura itulah
yg dinamai penipuan ketika dinisbahkan kepada kaum mukminin.
Apa yg dilakukan
oleh Rasul saw dan kaum mukmimn itu mendapat restu Allah swt., sehingga dengan demikian, restu itu dinilai
juga sebagai tipu Allah
terhadap mereka. Di tempat lain dinyatakan bahwa mereka menipu Allah, padahal
Dia yg menipu mereka (QS. an-Nisa [4]: 142).
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ
اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُواْ إِلَى الصَّلاةِ قَامُواْ كُسَالَى يُرَاؤُونَ
النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلاَّ قَلِيلاً
Sesungguhnya
orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka [364].
Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka
bermaksud riya [365] (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka
menyebut Allah kecuali sedikit sekali [366].
يُخَادِعُونَ
اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ
Firman-Nya: maa yasy’uruun—yg artinya tidak sadar
terambil dari kata Syaura yg sering diterjemahkan merasa. Rasa adalah
salah satu alat pengetahuan, dan karena itu, kata tersebut biasa juga diartikan
mengetahui, hanya
saja pengetahuan dimaksud menyangkut hal-hal yg teliti, tersembunyi lagi halus.
Itu sebabnya penyair dtnamai شاعر , karena dia mengetahui makna-makna yg tersembunyi dan menampilkan
sajak sajaknya dengan kalimat-kahmat indah tersusun rapi dan menyentuh rasa.
Ada
juga yg berpendapat bahwa kata tersebut terambil dari kata (شعار) yaitu baju yg dtpakai
seseorang. Dari kata tersebut lahir kata yang menunjuk kepada yg dilahirkan
oleh indra perasa.
Thihr Ibn 'Asyur – attahriir wa tanwiir-- tidak memahami.kata لا يشعرون bukan
dalam arti tidak memiliki rasa,
tetapi dalam arti tidak memiliki kecerdasan
berpikir, atau bahwa mereka adalah orang-orang yg dungu. Arti bahwa mereka
adl orang2 yg dungu lebih buruk
daripada menilai mereka tidak memiliki rasa. karena menurut Ibn 'Asyur, mencela
dengan sesuatu yg biasa terjadi lebih mantap daripada mencela menyangkut satu sifat yg udak mungkin
terjadi. Adanya "rasa" buat mereka diakui oleh semua orang,
sehingga tidak mengakui mereka memiliki rasa, atau menafikan mereka tidak
memiliki rasa, tidak membuat mereka cemas,..santai, .katena menafikan hal itu
dari seorang manusia merupakan suatu yg hampir mustahil.
Tetapi menafikan
kecerdasan meteka atau dengan kata lain menilai meteka dungu justru
sangat menyakitkan mereka.
Pendapat Ibn 'Asyur
di atas, dapat dibenarkan bila yg dimaksud dengan "rasa" adalah produk dari indra perasa.
Ini memang hampir-hampir dikatakan mustahil bagi manusia.
Tetapi, ada mufassir berpendapat, bukan produk indra perasa itu yg
dimaksud dengan perasaan yg dinafikan di sini. Yg dinafikan di sini adalah perasaan yg merupakan
sumber iman dan budi pekerti. Ia adalah kepekaan terhadap lingkungan. Bisa saja seseorang memiliki
indra perasa yg sangat peka tetapi ia tidak memiliki sedikit perasaanpun,
dan ketika itu jangan harapkan lahir darinya akhlak baik terhadap Allah,
manusia, maupun lingkungannya.
فِي
قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا
كَانُوا يَكْذِبُونَ
Firman-Nya fi qulilbihim maradhun --- dalam hati
mereka ada penyakit, yakni gangguan yg menjadikan
sikap dan tndakan mereka tidak wajar. Ini menjadikan
mereka memiliki akhlak yg sangat buruk.
Penyakit itulah
lahir akibat kemunafikan mereka. Firman-Nya: fazaadahumullahu maradhaa -- Allah menambah
penlakit, dipahami oleh Thihir Ibn 'Asyur dalam arti bahwa sifat-sifat buruk yg melekatpada
diri mereka itu dari hari
ke hari bertambah, karena demikian itulah sunnatullah terhadap akhlak; ia bertambah sedikit
demi sedikit tanpa disadari oleh pelakunya. Bahwa kemunafikan menambah buruk
sifat-sifat meteka, karena seorang yg memilikinya selalu berusaha menutupi
sifat-sifat buruk itu, sehingga ia tidak pernah mendapat kritik atau nasihat.
Ini tidak ubahnya dengan Seorang
sakit yg menutup-nutupi penyakitnya, enggan ke dokter sehingga penyakitnya bertambah dari saat
ke saat.
Ayat di atas mengulangi kata maradb, -- dan keduanya dalam bentuk nakirah (indefinite). Ada
kaidah bahasa yg menyatakan
bahwa apabila dalam satu susunan kata terulang kata yg sama dalam bentuk nakirah,
maka kandungan makna kata
pettama berbeda dengan kandungan katayangkedua. Ini berarti penyakit yg tadinya
didetita oleh orang-orang munafik bertambah
akibat kemunafikan mereka sehingga menimbulkan komplikasi dan
penyakitpenyakit baru.
Satu penyakit melahirkan
penyakit yg Lain. Penyelewengan bermula kecil, kemudian sedikiit derm
sedikit membesar dan membesar. Ini adalah sunnatullAh yakni ketetapan
Allah yg berlaku di setiap saat dan dalam segala bidang kehidupan, termasuk
dalam bidang rasa, tingkah laku, sampai puncaknya, yg dalam konteks uraian ayat
ini adalah siksa yg menyakitkan disebabkan karena mereka berbohong.
Seperti Anda baca, penyakit
tersebut lahir akibat
ulah yg bersangkutan sendri bukan oleh Allah. Namun ayat ini menyatakan bahwa Allah yg menambahnya.
Ini karena seperti dikemukakan di atas, Allah yg menetapkan sunatullah,
yakni hukum-hukum sebab
dan akibat atau ketetapan-ketetapan yg betlaku umum, sehingga bagaikan Dia yg rnenambahnya.
Hal itu sekaligus untuk
mengisyaratkan murka Allah kepada kaum munafikin atas aneka penipuan
mereka.
Sementara ulama
ada yg memahami kata Maka Allah nenambah peryakit buat mereka dalam arti doa
“semoga Allah menambahnya.
Pendapat ini kurang tepat bukan saja karena adanya kata maka, tetapi juga karena mendoakan agar keburukan
seseorang bertambah, tidaklah merupakan sesuatu yg terpuji bahkan
bertentangan dengan sikap Rasul saw. yg seringkali berdoa semoga Allah memberi
petunjuk kepada umatnya yg belum beriman.
AYAT 11-12
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ
تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ قَالُواْ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
· أَلا
إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِن لاَّ يَشْعُرُونَ
Dan bila dikatakan
kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, rnereka menjawab:
"Sesunguhnya hanya kami orang-orang mushlih." Sesungguhnya, mereka
itulah orangorang yg benar-benar
perusak, tapi nereka tidak menyadari.”
Keburukan mereka
tidak terbatas pada
kebohongan dan penipuan, tetapi ada yg lain, yaitu kepicikan pandangan dan
pengakuan yg bukan pada tempatnya sehingga bila dikatakan yakni ditegur
kepada mereka: janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab,
sesungguhnya kami - bukan selain kami -orang-,orang mushlih, yakni yg selalu
melakukan perbaikan.
Ucapan mereka
dibantah, Tidak! Sesungguhnya mereka itulah orang-orang yg benar-benar
perusak, tetapi mereka tidak menyadari. Pengrusakan di bumi adalah aktivrtas yg
mengakibatkan sesuatu yg memenuhi nilai-nilainya dan atau berfungsi dengan baik
setta bermanfaat menjadi kehilangan sebagian
atau seluruh nilainya sehingga tidak atau berkurang fungsi dan manfaatnya.
Seorang
dituntut, paling tdak, menjadi saleh, yakni memelihara nilai nilai sesuatu
sehingga kondisinya tetap tdak berubah sebagaimana adanya, dan dengan demikian
sesuatu itu tetap berfungsi dengan baik dan bermanfaat
Seorang mushlih
adalah siapa yg menemukan sesuatu yg hilang atau berkurangn Taatnya. Tidak atau kurang berfungsi dan bermanfaat, lalu
melakukan aktivitas (memperbaiki) sehingg yg kurang atau hilang itu dapat menyatu kembali dengan sesuatu itu. Yg tebih baik dari
itu adalab siapa yang menemukan sesuatu yg telah bermanfaat dan berfu ngsi dengan
baik, lalu ia melakukan aktivitas yg melahtkan nilai tambah bagi sesuatu itu,
sehingga kualitas dan manfaatnya lebih tinggi dari semula.
Orang-orang
munafik menduga diri mereka mencapai peringkat ini.
Allah
mengingatkan semua pihak yg bisa jadi teperdaya oleh kepandaian
mereka, sesungguhnya, mereka
itulah orang-orang yang benar-benar perusak, tetapi mereka tidak mnyadari keburukan
mereka,
atau tidak menyadai bahwa rahasia mereka telah diketahui oleh
Nabi dan umat Islam. Mereka
tidak menyadari
keburukan mereka sendiri karena setan telah memperdaya mereka dengan memperindah
sesuatu yg buruk di mata mereka. Ayat di atas meggambarkan bahwa mereka adalahorang-orang benarbenar perusak.
Pengrusakan
tersebut tentu saja banyak
dan berulang-ulang karena kalau tidak mereka tentu tidak dinamai perusak, satu bentuk
kata yg menunjukkan
kemantapan makna yg dikandung pada si pelaku,
betbeda jika
bentuk kata yangdigunakan adalah bentuk kata kerja. Bukankah berbeda antara si A penyanyi dan Si A menyanyi.
Pengrusakan yg mereka lakukan itu tercermin antara lain adalah terhadap diri mereka yg enggan berobat sehingga semakin parah penyakrt yg mereka deita. Selanjutnya pengrusakan kepada keluarga dan
anak-anak mereka, karena keburukan tersebut mereka tularkan melalui peneladanan sifat-sifatg buruk
itu. Lebih lanjut pengrusakan kepa da masyarakat dengan ulah mereka menghalangi orang lain
melakukan kebajikan, dengan menyebarkan isu-isu negatif, menanamkan
kebencian dan perpecahan dalam masyarakat.
Itu sebabnya nasihat yg ditujukan kepada mereka menyatakan, jangan
membuat kerusakan di bumi yakni secara jelas menyebut kata di bumi, bukan sekadar melarang melakukan pengrusakan. Yakni dengan penyebutan kata tetsebut tercermin betapa
luas dampak keburukan itu, sehinggakalau dibiarkan akan menyebar ke seluruh persada bumi. Ia tdak hanya akan menyentuh manusia, tp juga semua Lngkungan
hidup. Apa yg diisyaratkan oleh al-Qur'An semakin terbukti kebenaranya
deWasa ini, di saat alat-alat komunikasi sudah canggih dan dapat dijangkau
dengan mudah oleh siapa pun.
Ayat di atas
membantah mereka, dengan menggunakan susunan kata yg mengandung makna pengkhususan yakni yg perusak tdak lain kcuali mereka.
Redaksi ini dipilih sebagai jawaban atas ucapan mereka yg juga menyatakan bahwa hanya kami -bukan
selain kami- yg mushlihinn
- yakni pelaku-pelaku perbaikan. Memang bisa saja jawaban terhadap mereka
brrpa
pengkhususan itu, tetapi ia ditegaskan karena sebelum ini telah dinytatakan
bahwa mereka tidak lagi memiiikr dorongan unruk memperbaiki diri dan bahwa
sifat mereka dari hari ke hari bertambah buluk sehingga siapa yg sifat dan keadaannya demikian, tidak lagi
dapat diharapkan lahir darinnya suatu kebaikan.
Setelah
menyampaikan nahr mungkat, yakni melarang sesuatu yang
5uruk,
ayat di atas melanjutkan uaraiannya dengan arnr maktuf, atttu
remedntahkan
yg baik yaitu, penntah untuk beriman. Adalah bal yang
sangat
wajar mendahulukan nahi mungkar, karena menyingkirkan
kebutukan
lebih utama daripada menghiasi diri dengan keindahan. Tetapi
srkap
mereka tidak berubah sebagaimana terbaca pada ayat berikut.
Firman-Nya:
(ts jy.L_\) layy'anin serupa maknanya dengan kata
'.-ang
sama pada ayat9.
آيات مباركة تذكرنا بأهمية صدق الإيمان والابتعاد عن النفاق، حيث لا يخدع الكاذبون إلا أنفسهم وهم غافلون. تذكير قوي بأن الله يعلم خفايا القلوب، كما تعلّمنا سورة الانفطار مكتوبة كيف أن الله هو الحكم العادل وأن لكل نفس جزاء أعمالها. فلنحرص على نقاء قلوبنا وثبات إيماننا.
ReplyDelete